Hal ini menjadikan dana kelolaan reksa dana saham, dalam jangka pendek berpotensi turun akibat gonjang-ganjing pasar. Solusinya adalah memindahkan sebagian portofolio saham ke instrumen lain secara merata.
"Pasar finansial di 2012, kalau kita melihat lebih dalam untuk memitigasi risiko ke balance fund. Lebih support portofolio," ucap Manager Mutual Funds Sales PT Schroder Investment Management Indonesia, B.E. Iriawan Djaja, saat berbincang dengan detikFinance, di Jakarta, Jumat (9/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat pasar bergolak, nilai investasi saham pun cenderung turun. Saat investor memilih reksa dana campuran, penurunan nilai investasi tidak sedalam mereka yang memegang reksa dana saham.
"Nasabah jangan serakah. Hanya semata melihat return, tapi memitigasi risiko. Yaitu di reksa dana campuran," tutur Bonny.
Hingga November, berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) reksa dana saham masih mendominasi portofolio industri. Total NAV reksa dana saham mencapai Rp 60,906 triliun. Kemudian disusul reksa dana terproteksi Rp 40,903 triliun dan reksa dana pendapatan tetap Rp 24,82 triliun.
Sisanya, tersebar pada beberapa jenis reksa dana diantaranya pasar uang Rp 8,846 triliun, reksa dana campuran syariah Rp 1,55 triliun, reksa dana saham syariah Rp 1,017 triliun dan reksa dana terproteksi syariah Rp 540,053 miliar, juga beberapa lainnya berjenis Exchange traded fund (ETF).
(wep/ang)











































