Investor Asing Nilai Kapitalisasi Pasar Modal RI Kecil

Investor Asing Nilai Kapitalisasi Pasar Modal RI Kecil

- detikFinance
Selasa, 20 Jul 2004 16:37 WIB
Jakarta - Investor asing menganggap kapitalisasi pasar modal di Indonesia sangat kecil. Akibatnya mereka beralih ke Jepang, Hong Kong, Cina dan Singapura. "Sejak krisis ekonomi banyak investor internasional beralih ke Jepang, Hong Kong, Singapura juga Cina dibandingkan Filipina dan Indonesia. Mereka menilai pasar modal Indonesia kecil," kata Alejandro T. Reyes dari Pasific Basin Economic Council yang merupakan konsultan investasi yang berbasis di Hong Kong, dalam jumpa pers di Gedung BEJ, Jakarta, Selasa (20/7/2004).Menurut Alejandro, tantangan dari minimnya investasi yang masuk ke pasar modal Indonesia harus dijawab oleh bangsa Indonesia sendiri. Dengan demikian turunnya investasi di Indonesia bukan karena adanya peningkatan ekonomi di Cina, namun karena perangkat peraturan di Indonesia yang dinilai belum kondusif, termasuk masih maraknya korupsi dan belum stabilnya politik. Kondisi ini foreign direct investment sejak krisis turun. Hal tersebut berbeda dengan negara-negara Asia lainnya, seperti Korea yang justru mengalami kenaikan FDI setelah krisis.Sedangkan Steven Sitao Su, Director Advisory China Economist Corporate Network An Economic Group Business mengatakan kebangkitan ekonomi Cina telah memberikan pengaruh pada emerging market (pasar negara berkembang) dengan naiknya permintaan komoditi, seperti minyak, besi, semen ke Cina. Pertumbuhan ekonomi Cina tersebut juga memberikan dampak bagi Indonesia karena banyak komoditas di negara ini yang diperlukan Cina dalam rangka pertumbuhan pembangunan. Maka itu Indonesia harus memperhatikan dampak pertumbuhan ekonomi Cina, apakah soft landing atau hard landing.Dia juga menegaskan ekonomi Cina saat ini belum mengalami over heating. Hal ini bisa dilihat adri surplus yang terjadi negara tersebut, serta inflasi dan suku bunga yang terkendali. Padahal over heating terjadi jika negara tersebut melakukan pembiayaan pembangunannya dari pinjaman luar negeri dan inflasi yang meningkat.Menurut Steve, meski Cina mengalami surplus, itu hanya terjadi pada perdagangan dengan Amerika karena perdagangan dengan Asia ternyata defisit. Dia menegaskan tidak ada indikator prosentase tertentu untuk mengatakan Cina mengalami over heating meski pertumbuhannya saat ini sudah mencapai 9,6 persen. pasalnya pertumbuhan Cina justru bisa mencapai dua digit jika pemerintah menghapus distorsi yang ada.Cina saat ini memiliki tabungan nasional mencapai 40 persen dari PDB. Maka itu pemerintah harus terus melakukan deregulasi dan reformasi perbankan. "Saya perkirakan mata uang Cina akan stabil sampai dua tahun mendatang," ujarnya. (nit/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads