Penjualan Batubara Atlas Kena Imbas Jembatan Kukar

Penjualan Batubara Atlas Kena Imbas Jembatan Kukar

- detikFinance
Selasa, 13 Des 2011 14:33 WIB
Penjualan Batubara Atlas Kena Imbas Jembatan Kukar
Jakarta - Penjualan batubara milik PT Atlas Resources Tbk (ARII) sepanjang Desember diprediksi akan terganggu oleh ambruknya Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) di sungai Mahakam. Batubara tersebut berasal dari anak usaha perseroan, PT Diva Kencana Borneo.

"Saat ini otoritas yang berwenang masih melakukan pemeriksaan atas rubuhnya jembatan tersebut dan lalu lintas sungai masih belum dapat digunakan untuk umum," kata Direktur Atlas Aulia Setiadi dalam keterangan tertulis, Selasa (13/12/2011).

Menurutnya, dampak dari penutupan sungai terhadap terhadap penjualan perseroan Desember 2011 sata ini belum diketahui secara pasti dan akan bergantung kepada beberapa faktor, termasuk faktor waktu dibukanya kembali sungai tersebut untuk kelancaran lalu lintas tongkang di tepi sungai dan area transhipment setelah dibukanya sungai tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apabila operasi logistik melalui sungai dari wilayah IUP Diva Kencana Borneo tidak dapat dimulai kembali sebelum pertengahan Desember 2011, hal tersebut dapat memberikan dampak yang signifikan pada penjualan perseroan di Desember 2011," katanya.

Namun, ia berharap, jika hal ini terjadi pengiriman dan penjualan yang sudah disiapkan untuk Desember akan dilakukan segera setelah operasi logistik melalui sungai Mahakam kembali lancar.

Seperti diketahui, pada Sabtu 26 November 2011 lalu jembatan Kukar ambruk. Sehingga jalur logistik batubara di sungai Mahakam lumpuh untuk sementara.

Pemerintah sudah membuka kembali jalur logistik tersebut meski belum maksimal, karena hanya dibuka untuk beberapa jam saja dalam sehari. Pasalnya, pembersihan puing jembatan dan evakuasi korban masih terus dilakukan.

Pada perdagangan hari ini, hingga pukul 14.25 JATS, harga saham ARII stagnan di Rp 1.420 per lembar. Sahamnya diperdagangkan dua kali dengan volume 15 lot senilai Rp 10,65 juta.
(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads