Demikian disampaikan Direktur Keuangan BNBR, Eddy Soeparno, di Bakrie Tower, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Jumat (26/12/2011).
Dalam tahap awal pengembangan infrastruktur, perseroan menggandeng mitra strategis asal Asia dan Amerika Serikat. Dana awal yang terkumpul mencapai US$ 100 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, sektor infratruktur yang perseroan bidik adalah pembangkit listrik, jalan tol, infrastruktur minyak dan gas. Salah satu angota pengelola dana infrastruktur ini adalah Samsung, asal Korea.
Meski banyak mitra strategis, perseroan tetap menjadi pemilik mayoritas. "BNBR tetap menjadi mayoritas dalam Funds ini," ujarnya.
Lembaga pembiayaan infratruktur ini akan diperkenalkan publik di Februari 2012.
Dalam memperbaiki kinerja keuangan, grup usaha Bakrie ini juga berencana mengurangi utang. Sampai dengan akhir tahun ini, target utang perseroan menjadi Rp 4 triliun.
"Akhir tahun ini kami, perkirakan utang kami bisa turun menjadi Rp 4 triliun," tutur Eddy.
Pengurangan utang didapat dari debt to asset settlement atas pemegang Medium Secure Note (MSN). Posisi akhir utang saat ini mencapai Rp 5,5 triliun.
"Kami saat ini sedang lakukan negosiasi dengan salah satu kreditur dengan nilai pelunasan Rp 1,5 triliun. Kalau itu berhasil utang kami tinggal Rp 4 triliun," tambah Eddy.
"Nego penurunan utang, kita lagi ngomong dengan pemegang MSN, lewat debt to asset settlement. Mereka yang pemegang MSN sisa Rp 2,2 triliun. Nah, sisa Rp 1,5 triliun," paparnya.
Debt to asset settlement dilakukan dengan melepas saham pada sejumlah perusahaan, seperti PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).
Dengan pelepasan saham tersebut, kepemilikan Bakrie Brothers di UNSP 28,92%, ELTY 8,14%, BTEL 45%, dan ENRG 8,75%.
BNBR Incar US$ 500 Juta dari Bakrie Infrastructure Fund (wep/dru)











































