Emisi Obligasi Korporasi Semester II Diperkirakan Rp 7-10 T
Minggu, 25 Jul 2004 10:12 WIB
Bogor - Sejumlah emiten diperkirakan akan menerbitkan obligasi pada semester II/2004. Obligasi korporasi yang akan diterbitkan tersebut berkisar Rp 7-10 triliun.Demikian diungkapkan Direktur Trimegah Sucurities Desimon di sela-sela acara Trimegah Securities Press Gathering di Hotel Novus Puncak, Bogor, yang berlangsung Sabtu-Minggu (24-25/7/2004).Menurutnya, obligasi yang akan diterbitkan tersebut akan dimanfaatkan emiten terutama untuk kebutuhan dana ekspansi tahun 2005 selain masih ada juga beberapa emiten yang menggunakan data tersebut untuk refinancing obligasi yang jatuh tempo.Emiten juga memanfaatkan suku bunga SBI yang masih rendah di level 7%. "Kalau tahun lalu penerbitan obligasi korporasi 90% untuk refinancing, sekarang arahnya sudah berbeda. Mereka mengantisipasi kebutuhan dana ekspansi untuk bisnis tahun 2005. Penggunaan untuk refinancing mungkin dilakukan hanya 1-2 emiten saja," kata Desimon.Hingga Juni 2004, obligasi yang diperdagangkan di Bursa Efek Surabaya (BES) sebesar Rp 436,9 triliun. Obligasi ini terdiri dari obligasi pemerintah sebesar Rp 385,5 triliun, dan obligasi korporasi Rp 51,4 triliun.Desimon menjelaskan, meski perekonomian global terutama rencana The Fed yang secara bertahap menurunkan suku bunga, namun hal itu tidak akan memberi tekanan yang tinggi terhadap perdagangan obligasi di Indonesia.Pasalnya, suku bunga AS saat ini ingin kembali dibawa ke level normal karena saat ini tidak normal. Sedangkan suku bunga di Indonesia di level 7-8% justru sudah dalam kondisi normal."Jadi, pasar obligasi kita tidak akan terlalu mengalami tekanan dengan rencana kenaikan suku bunga The Fed karena suku bunga AS saat ini justru yang tidak normal," ujar Desimon.Desimon juga melihat permintaan pasar terhadap obligasi, masih akan kuat karena kondisi perbankan yang overliquid; dana pensiun dan asuransi mengalami negative spread karena rendahnya bunga deposito; reksadana yang tumbuh pesat dan suku bunga yang relatif stabil."Sedangkan di sisi penawaran, justru terbatas. Akibatnya, yield obligasi diperkirakan akan bergerak stabil sampai akhir tahun dengan catatan tidak ada lonjakan inflasi," katanya.Desimon juga menyoroti masih belum efisiennya pasar obligasi karena belum liquid. Pasalnya, kondisi seperti ini akan dimanfaatkan oleh sekelompok manajer investasi untuk melakukan cornering (penggorengan) sehingga BI dipaksa untuk menaikkan suku bunga.Desimon menjelaskan, obligasi pemerintah yang akan diterbitkan masih ada potensi sebsar Rp 16,48 triliun dari total target emisi obligasi tahun 2004 yang sebesar Rp 32,5 triliun."Pemerintah telah berkali-kali menunda penerbitan obligasi karena ada permintaan yield yang begitu tinggi dari pelaku pasar. Namun pada 27 Juli 2004 pemerintah sudah mulai kembali menerbitkan obligasi karena pasarnya dinilai sudah kondusif. Walaupun imbal hasil (yield) obligasi korporasi umumnya lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah, namun pada bulan Juni-Juli, yield pemerintah lebih tinggi daripada korporasi, karena kondisi pasar yang abnormal," demikian Desimon.
(nrl/)











































