Demikian disampaikan oleh Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan saat pemaparan kinerja perusahaan Garuda Indonesia 2011 di Kompleks Garuda Maintenance Facility di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (12/1/2012).
"Peningkatan utang itu karena pada 2011 ada pinjaman sebesar US$ 50 juta dari Citibank, UBS, dan Indo Exim," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami harap sih tidak ada pinjaman lagi tahun ini, biar posisi utang menjadi US$ 400 jutaan," tandasnya.
Mengenai sumber pendanaan untuk membayar utang itu perseroan akan mengambil dari operating cash flow yang diharap mencapai Rp 2,5 triliun, kemudian dari sisa dana IPO, dan pinjaman baru. "Untuk pinjaman baru itu masih rencana, karena harus mendapat persetujuan. Dari rapat RUPS," ucapnya.
Sementara itu, menurut Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar mengatakan dalam berbisnis, utang adalah sesuatu yang wajar. "Utang itu tidak haram hukumnya. Apalagi utang itu digunakan untuk pengembangan usaha," ucapnya.
Menurut Emirsyah, dalam mengembangkan usaha mustahil tidak ada utang. "Tak mungkin berkembang dengan equity terus. Yang terpenting adalah kemampuan perusahaan untuk membayar," tandasnya.
Emirsyah coba mengilustrasi, pada 2006 pendapatan Garuda mencapai US$ 1 miliar, tapi utang sebesar US$ 900 juta. Tapi sekarang pendapatan mencapai Rp 27,1 triliun, dengan posisi utang US$ 517 juta. "Jika dilihat itu ada keseimbangan, ada sustainable," ujarnya.
Terkait kinerja Garuda Indonesia pada 2011, perusahaan itu membukukan pendapatan Rp 27,1 triliun dari Rp 19 triliun (2010). Untuk 2012 diharap meningkat 21 persen. "Untuk jumlah penumpang kami targetkan 22 juta orang pada 2012, tahun lalu 17,1 juta orang," ucap Emirsyah.
(dnl/dnl)











































