Menurut Direktur Utama ABMM Andi Djajanegara dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/1/2012), pembayaran dilakukan oleh dua bank, yakni DBS Singapura senilai US$ 13 juta (Rp 119,62 miliar) serta Bank Permata Rp 225 miliar.
Dana diambil dari hasil penjualan saham perdana (Initial Publi Offering/IPO) yang telah dilakukan Desember 2011 lalu. "Sebagian pinjaman tersebut sebenarnya belum saatnya jatuh tempo, hanya kami mempercepat pelunasan pinjaman untuk memenuhi komitmen kami kepada para pemangku kepentingan kami terutama para investor," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain untuk membayar utang, sebanyak 70% dana IPO sebagai pembiayaan ekspansi anak usaha.
Melalui anak usahanya, ABBM berjanji mengembangkan bisnis energi hulu dan hilir, sehingga terjadi terintegrasi. Diharapkan ke depan, anak usaha dapat menyumbang profit yang signifikan.
Direktur Corporate Strategy ABM, Yovie Priadi menambahkan, perseroan akan meningkatkan produksi batu bara hingga 5,5 juta ton. Kontribusi didapat dari dua tambang baru, di Aceh dan Kalimantan Selatan.
(wep/ang)











































