Antam Dapat Kredit Rp 5,8 Triliun dari Bank Mandiri Cs

Antam Dapat Kredit Rp 5,8 Triliun dari Bank Mandiri Cs

- detikFinance
Selasa, 31 Jan 2012 15:53 WIB
Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mendapatkan kredit US$ 650 juta atau sekitar Rp 5,8 triliun dari kredit sindikasi beberapa bank yang dipimpin oleh Bank Mandiri.

Kredit tersebut rencananya akan digunakan Antam untuk membangun pabrik pengolahan Feronikel (FeNi) IV dengan kapasitas produksi sebesar 27 ribu ton nikel per tahun di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Riswinandi mengatakan dukungan Bank Mandiri melalui konsorsium ini diharapkan dapat membantu Antam dalam meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan nikel domestik yang terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan industri manufaktur nasional, serta permintaan pasar internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pertambangan merupakan salah satu sektor yang menjadi kontributor terbesar pada pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu, Bank Mandiri berkomitmen untuk mendukung upaya penguatan sektor ini guna mendorong peningkatan kapasitas produksi," kata Riswinandi dalam siaran pers, Selasa (31/1/2012).

Adapun bank yang ikut dalam sindikasi kredit ini selain Bank Mandiri adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), Standard Chartered Bank, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation

Pada Desember 2011, Antam telah menerbitkan obligasi berkelanjutan tahap pertama Rp 3 triliun untuk investasi rutin dan pengembangan usaha. Mandiri Sekuritas, Deutche Securities Indonesia, dan Standard Chartered Securities ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi berjangka waktu 7 dan 10 tahun itu. Untuk penerbitan obligasi dimaksud, Bank Mandiri bersama BRI, Standchard dan Deutsche Bank bertindak sebagai standby buyer.

Hingga September 2011, Bank Mandiri telah memberikan pembiayaan sekitar Rp 6,783 triliun kepada sektor pertambangan dan pengolahan bahan logam nasional, dimana sebagian besar digunakan untuk peningkatan kapasitas produksi. Jumlah tersebut menunjukkan adanya kenaikan 16% jika dibandingkan dengan September 2010 sebesar Rp 5,807 triliun.


(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads