Jasa Marga dapat memenuhi kekurangan dana konstruksi jalan tol bisa dipenuhi internal. Namun Jasa Marga meminta konsesi tol baru, di luar jaringan jalan yang dipublikasikan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).
"Kita memiliki ide bahwa Jasa Marga akan tetap mendapatkan dana Rp 1,9 triliun kekurangan tol Bawen-Solo, dengan mendapat konsesi baru," ucap Deputi Menteri BUMN Bidang Infrastruktur dan Logistik Sumaryanto Widayatin di gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, Kamis (16/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini hanya antara Kementerian BUMN dengan PU (Pekerjaan Umum). Saya ajak bicara pak Ghani, dengan sering-sering main golf," kata Sumaryanto.
Langkah ini mendapat respon positif dari Direktur Utama Jasa Marga, Adityawarman. "Ada ide penyelesaian yang luar biasa untuk menyelesaikan masalah ini," tambah Adit.
Sebelumnya, Kementerian Keuangan sepakat mengalokasikan dana pendampingan atau viability gap fund (VGF). Dana Rp 1,9 triliun ini didapat dari APBN 2013.
Komitmen Kemenkeu tersebut terkait keinginan pemerintah dalam percepatan pembangunan tol Trans Jawa di 2014. Padahal diawal perencanaan, ruas Bawen-Solo baru akan beroperasi di 2020.
"Semarang-Solo (seksi III-V Bawen-Solo) memang ada catatan, karena sebelumnya perhitungan kami tahun 2020 baru layak visibiliy studies. Kalau kita maju 2014, berarti belum masuk pada lalu lintasnya," terang Adit.
Seperti diketahui, proyek jalan tol Semarang-Solo dibagi menjadi lima seksi yaitu seksi I Semarang-Ungaran (16,3 km) yang sudah beroperasi sejak diresmikan pada November 2011, seksi II Ungaran-Bawen (13,33 km), seksi III Bawen-Salatiga (18,2) km, seksi IV Salatiga-Boyolali (22,4 km), dan seksi V Boyolali-Karanganyar (11,1 km).
(wep/ang)










































