Investor Wajib Pisahkan Rekening, Transaksi Saham Normal

Investor Wajib Pisahkan Rekening, Transaksi Saham Normal

- detikFinance
Kamis, 23 Feb 2012 17:40 WIB
Investor Wajib Pisahkan Rekening, Transaksi Saham Normal
Jakarta - Implementasi kebijakan pemisahan rekening dana investor (RDI) yang sempat ditunda dari 1 Februari menjadi 21 Februari tidak berdampak pada penurunan nilai transaksi di pasar modal. Sepanjang tiga hari ini, rata-rata transaksi berdagangan normal di kisaran Rp 4 triliun.

Menurut Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito, normalnya nilai perdagangan saham harian karena hampir seluruh investor aktif telah memisahkan rekening dananya ke bank pembayar (payment bank) dari sebelumnya di rekening broker.

Ia menambahkan, investor yang belum memisahkan rekening dana adalah mereka yang pasif atau tidak melakukan perdagangan (trading harian).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang belum buka adalah investor yang tidak aktif. Yang bukan melakukan perdagangan tiap hari. Pengaruhnya boleh dikata tidak banyak," kata Ito usai Seminar Pasar Modal di kampus FEUI, Depok, Kamis (23/2/2012).

Sepanjang Januari hingga pekan ketiga Februari ini, Ito menegaskan justru terjadi peningkatan nilai perdagangan harian di BEI. "Januari rata-rata perdagangan harian Rp 4,3 triliun. Februari ini malah naik," tegas Ito.

Berdasarkan data perdagangan BEI tiga hari terakhir, detikFinance mencatat nilai transaksi dapat terjaga pada level Rp 4 triliun. Nilai ini sama dengan rata-rata perdagangan sebelum kebijakan fund separation yang diatur dalam peraturan Bapepam-LK No. V.D.3, berlaku.

Pada perdagangan 21 Febaruari kemarin, frekuensi transaksi mencapai 114.222 kali pada volume 4,935 miliar lembar saham senilai Rp 4,676 triliun. Satu hari berselang (21/2/2012), frekuensi transaksi mencapai 138.064 kali pada volume 4,708 miliar lembar saham senilai Rp 4,026 triliun.

Sesi II perdagangan hari ini (23/2/2012), frekuensi transaksi saham berada pada level 114.222 kali, dengan volume 4,935 miliar lembar senilai Rp 4,676 triliun.

(wep/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads