NAB Reksa Dana Capai Rp 167 Triliun Akhir Februari

NAB Reksa Dana Capai Rp 167 Triliun Akhir Februari

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Senin, 05 Mar 2012 10:53 WIB
NAB Reksa Dana Capai Rp 167 Triliun Akhir Februari
Jakarta - Nilai aktiva bersih (NAB) produk investasi reksa dana hingga Februari 2012 tercatat Rp 167,69 triliun, atau naik Rp 4,15 triliun dibandingkan bulan sebelumnya Rp 163,54 triliun.

Demikian disampaikan dalam laporan aktivitas reksa dana seperti dikutip detikFinance dari data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) di Jakarta, Senin (5/3/2012).

Dua bulan pertama 2012, nilai investasi pada istrumen reksa dana mencapai Rp 167,69 triliun. Dimana jumlah unit 101,285 miliar. Jumlah ini cukup meningkat dibanding Januari dengan NAB Rp 163,54 triliun dan jumlah unit 98,41 miliar. Angka terakhir, memang turun jika dibandingkan dengan perolehan NAB sepanjang 2011 yang mencapai Rp 201,53 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sepanjang 2011 NAB cukup meningkat pada kisaran 17,59% dari periode yang sama tahun 2010 Rp 170,928 triliun. Tahun lalu terdapat 765 reksa dana tercatat. Nilai reksa dana saham mencatat NAB terbesar mencapai Rp 60,4 triliun.

Ketua umum Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI), Abiprayadi Riyanto pun meyakini investasi reksa dana 2012 akan kembali tumbuh dikisaran 20%. Pertumbuhan ini terjadi jika kondisi krisis Eropa membaik, sehingga pundi-pundi dana investasi jenis ini bertambah tebal.

"Indonesia bagus, namun harus lihat juga Eropa. Karena Eropa punya peran akan naik turunnya indeks. Kalau (krisis) Eropa berjalan soft maka hasilnya baik. Untuk dana kelolaan, kalau Eropa seperti yang diharapkan maka akan tumbuh 15%-20%. Tapi bisa saja dibawah itu, kalau kondisinya berubah-ubah terus," jelas Abiprayadi waktu itu.

Investasi reksa dana adalah akumulasi simpanan jangka panjang. Sehingga manfaat besar baru akan diterima investor minimal 5-10 tahun mendatang. Untuk itu, strategi pembelian unit reksa dana secara berkala adalah tepat. Jangan terlalu fokus pada kondisi pasar dalam jangka pendek. "Kalau saya memang selalu advice beli at anytime, secara reguler. Jangan tergantung indeks," tegasnya.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads