Diselimuti Sentimen Krisis Yunani, Bursa Asia Rontok

Diselimuti Sentimen Krisis Yunani, Bursa Asia Rontok

- detikFinance
Rabu, 07 Mar 2012 11:12 WIB
Bangkok - Pasar saham Asia pada perdagangan Rabu pagi jatuh, menyusul ketidakpastian dukungan kreditor swasta atas pertukaran obligasi Yunani. Kamis besok adalah batas para investor menukar obligasi pemerintah untuk penggantian nominal dan suku bunga yang lebih rendah.

Namun sejumlah pengamat sudah memprediksi negeri para dewa itu menderita gagal bayar surat utang 1 triliun euro. Ekonomi Eropa pun kian tak menentu.

Indek Nikkei 225 Jepang jatuh 0,7% menjadi 9,572.91. Hang Seng Hong Kong turun 1,1% menjadi 20,582.32 dan Kospi Korea Selatan kehilangan 0,9% menjadi 1,981.84. S & P / ASX 200 Australia merosot 0,8% menjadi 4.171.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rontoknya bursa saham Asia berselang sehari setelah Wall Street mengalami penurunan terburuk tahun ini. Untuk pertama kalinya dalam tahun 2012 Indeks Dow Jones turun lebih dari 203,66 poin atau 1,57% ke level 12.759,15. Indeks S&P 500 turun 20,97 poin atau 1,54% ke level 1.343,36. Indeks Nasdaq turun 40,16 poin atau 1,36% ke level 2.910,32.

Selasa kemarin, Yunani mengumumkan kemungkinan gagal bayar, apabila sampai Kamis besok pemegang obligasi negara tidak ikut dalam program restrukturisasi utang.

Program ini dihelat untuk menyelamatkan keuangan negara dan Eropa dari krisis keuangan yang makin parah. Yunani meminta bank, perusahaan dana pensiun, hedge fund yang memegang sekitar US$ 260 miliar obligasi negara menukarnya dengan surat utang baru yang nilai dan suku bunganya lebih rendah.

Pertukaran obligasi sangat penting bagi Yunani dalam rangka memotong utang dan mendapat dana talangan senilai 130 miliar euro atau US$ 172 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF). Tanpa adanya dana talangan diperkirakan akhir bulan ini Yunani bisa gagal bayar utang.

"Kabarnya tingkat partisipasi investor swasta untuk menukar obligasi Yunani mulai kendur, sehingga kemungkinan Athena memperpanjang tenggat waktu," kata Stan Shamu, analis pasar di IG Markets di Melbourne, dilansir Reuters, Rabu (7/3/2012).

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads