BES Optimis Target Emisi Obligasi Korporasi Capai Rp 15 T
Kamis, 05 Agu 2004 13:28 WIB
Jakarta - Bursa Efek Surabaya (BES) optimis target emisi obligasi korporasi hingga akhir 2004 mencapai Rp 15 triliun. Sedangkan periode Januari-Juli 2004, jumlah emisi obligasi korporasi telah mencapai Rp 12,1 triliun."Sampai sekarang untuk tujuh bulan, Januari-Juli 2004 sudah mencapai Rp 12,1 triliun. Sedangkan yang listing sudah Rp 10,2 triliun tapi sampai akhir tahun kita optimis bisa mencapai target di kisaran Rp 12 triliun-Rp 15 triliun tercapai," kata Direktur BES Guntur Pasaribu di Gedung BEJ, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, Kamis, (5/8/2004).Apalagi, jika ada emiten-emiten besar seperti Indofood, Adira Multifinance dan HM Sampoerna yang akan kembali menerbitkan obligasi tahun ini, sehingga diperkirakan jumlah emisi obligasi di BES bisa lebih dari Rp 15 triliun.Guntur memperkirakan, obligasi besar seperti Indofood dan MH Sampoerna akan menggunakan laporan keuangan yang diaudit per Juni. "Baru, beberapa bulan kemudian emiten akan melakukan offering sekitar November atau Desember karena untuk yang audit Maret 2004 dan Desember 2003 sudah tidak habis digunakan," katanya.Saat ini kapitalisasi pasar obligasi korporasi di BES sebesar Rp 50,4 triliun. Dengan tercapainya target emisi obligasi, kapitalisasi pasar di BES hingga akhir tahun diperkirakan bisa mencapai Rp 57 triliun.Kondisi ini, menurut Guntur, akan meningkatkan likuiditas di pasar obligasi karena nasabah mempunyai banyak pilihan dari beberapa sektor emiten serta rating yang diperoleh.Pada tahun 2003 lalu, obligasi korporasi yang dicatatkan di BES mencapai Rp 25 triliun. Namun untuk tahun 2004 ini, BES menargetkan lebih kecil karena kondisi pasar saat ini di kisaran Rp 12 triliun-Rp 15 triliun dan kondisi global.Mengenai tren kenaikan suku bunga SBI, ia menilai jika kenaikannya masih di kisaran 0,5-0,75 persen, hal itu tidak akan berpengaruh banyak terhadap perdagangan obligasi. Pasalnya, dengan kenaikan tingkat bunga dikisaran itu masih ada rate yang didapat investor obligasi 2-3 persen dibandingkan dengan SBI. "Jadi, kalau naiknya masih 0,75 persen perdagangan obligasi masih atraktif," katanya.Apalagi, lanjutnya, jika pada semester II ini obligasi ritel mulai digalakkan seperti yang dilakukan Trimegah Securities dengan menjual obligasi eceran Rp 25 juta-Rp 50 juta."Penjualan obligasi ritel akan memicu perluasan basis investor sehingga perdagangan di secondary market akan lebih likuid," katanya.
(mi/)











































