Menurut Ditektur Utama TRAM, Denny Thaher, bidikan portofolio infratruktur sengaja dipilih karena sektor ini menghasilkan efek domino. Ada pembangunan jalan tol, industri dasar dan kontruksi, serta tidak lupa properti.
Pada tahun pertama dana kelolaan TRAM Infrastructure Plus membidik dana kelolaan Rp 500 miliar.
"Produk kita 60% masuk sektor terkait infrastruktur sebagai portofolio inti. 0-40% non inti. 0-20% dapat ditempatkan pada efek utang dan atau instrumen pasar uang dalam negeri yang jatuh tempo kurang satu tahun," kata Denny di Ritz Calton, SCBD, Jakarta, Kamis (15/3/2012).
Produk ini memiliki NAB awal Rp 1.000. Minimal investasi Rp 250 ribu. Nilai yang sama juga berlaku pada minimum penjualan, dan minimum kepemilikan atau pengalihan.
Biaya pembelian maksimal 2%, dengan biaya penjualan 2% (duransi maksimal satu tahun), dan 0% untuk periode yang lebih panjang. Selaku bank kustodian telah ditunjuk HSBC Jakarta.
Program ini juga menangkap peluang program percepatan pembangunan pemerintah melalui MP3EI. Dimana terdapat nilai investasi Rp 4.012 triliun hingga 2025, atau sekitar Rp 267 triliun setiap tahun. Dari total tersebut, 44% sebagai biaya pembangunan infratruktur di enam koridor ekonomi Indonesia.
"Program ini menunjukkan pemerintah sangat fokus membenahi infrastruktur," tegas Denny.
(wep/ang)











































