Ditopang Saham Lapis Kedua, IHSG Naik 3,707 Poin
Kamis, 05 Agu 2004 16:26 WIB
Jakarta -
Perburuan saham-saham lapis kedua (second liner) di tengah minimnya sentimen positif, masih menopang kenaikan indeks Bursa Efek Jakarta. Pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (5/8/2004), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat naik 3,707 poin pada level 762,011.Indeks LQ-45 yang terdiri dari 45 saham yang paling aktif diperdagangkan naik 0,699 poin pada level 165,875, Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,247 poin pada level 126,894, Indeks Papan Utama (MBX) naik 0,238 poin pada level 204,839 dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) naik 1,793 poin pada level 175,836.Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 18.262 kali pada volume 2.847.108 lot saham senilai Rp 589,054 miliar. Sebanyak 98 saham mencatat kenaikan harga, 31 saham mengalami penurunan harga dan 251 saham lainnya stagnan.Saham-saham yang mencatat kenaikan harga di deretan top gainer di antaranya Astra Otoparts (AUTO) naik Rp 375 menjadi Rp 1.625, Hexindo Adiperkasa (HEXA) naik Rp 350 menjadi 1.800, Ciputra Surya (CTRS) naik Rp 75 menjadi Rp 975, Bank NISP (NISP) naik Rp 50 menjadi Rp 575, Astra Internasional (ASII) naik Rp 50 menjadi Rp 5.700, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 50 menjadi Rp 5.600, Indocement (INTP) naik Rp 50 menjadi Rp 1.600 serta GT Petrochem Industries (ADMG) naik Rp 35 menjadi Rp 345.Di jajaran top loser, saham-saham yang mengalami penurunan harga antara lain Ramayana (RALS) turun Rp 75 menjadi Rp 4.250, Unilever (UNVR) turun Rp 50 menjadi Rp 3.775, International Nickel (INCO) turun Rp 50 menjadi Rp 8.700, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 25 menjadi Rp 1.250 dan Indosat (ISAT) turun Rp 25 menjadi Rp 4.050.Kenaikan indeks hari ini terutama ditopang melonjaknya saham-saham lapis kedua seperti Hexindo Adiperkasa yang laporan keuangan semester pertamanya sangat bagus. Perburuan saham-saham lapis kedua ini, terutama emiten yang memiliki kinerja semester pertama cukup baik.Sedangkan saham-saham unggulan seperti Bank Mandiri dan Indosat justru mengalami koreksi harga karena dinilai sudah terlalu banyak naik. Namun demikian, secara keseluruhan perdagangan indeks masih bergerak dalam kisaran yang sempit karena investor masih khawatir dengan gejolak naiknya harga minyak dunia.
(ani/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































