Kinerja Kelam, Latinusa Catat Rugi Rp 19,26 miliar

Kinerja Kelam, Latinusa Catat Rugi Rp 19,26 miliar

- detikFinance
Rabu, 28 Mar 2012 10:40 WIB
Kinerja Kelam, Latinusa Catat Rugi Rp 19,26 miliar
Jakarta - Kinerja produsen tinplate, PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) tahun buku 2011 tidak terlalu bersinar. Anak usaha Krakatau Steel ini mencatat rugi bersih Rp 19,26 miliar. Padahal sebelumnya perseroan mencatat laba bersih Rp 74,57 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, Rabu (28/3/2012), rugi per saham mencapai Rp 7,63 per lembar. Tahun 2010 NIKL meraih laba per saham Rp 29,55 per lembar.

Rugi ini disebabkan oleh penjualan tinplate yang turun, ditambah beban penjualan dan operasi yang relatif meningkat. Pejualan bersih perseroan per Desember 2011 tercatat Rp 1,26 triliun, turun Rp 103 miliar dari periode sebelumnya Rp 1,36 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penjualan bahan dasar kemasan kaleng ini dominan dilakukan pada pasar dalam negeri, dengan volume sekitar 100.168 ton. Volume penjualan dibandingkan 2010 menurun sekitar 5.7 ton. Pembeli terbesar perseroan adalah PT Frisian Flag Indonesia dan PT United Can Company.

Dengan beban penjualan Rp 1,178 triliun, laba kotor NIKL mencapai Rp 85,62 miliar. Laba ini turun drastis dari periode sebelumnya Rp 185,009 miliar. Perseroan pun tak kuasa mencatat rugi operasi Rp 14,67 miliar mengingat besarnya beban operasi yang mencapai Rp 10,29 miliar. Sebelumnya laba operasi perseroan tahun 2010 mencapai Rp 77,001 miliar.

Rugi sebelum pajak juga mencapai Rp 19,87 miliar. Pada periode sebelumnya perseroan berhasil meraih laba sebelum pajak Rp 74,57 miliar.

Total aset pereroan padahal tumbuh Rp 3,6 miliar dari Rp 917,66 miliar pada 2010 menjadi Rp 921,27 miliar. Sementara total kewajiban naik menjadi Rp 477,18 miliar, dari sebelumnya Rp 430,23 miliar.

Direktur Utama Latinusa, Ardhiman TA menjelaskan, menurunnya kinerja disebabkan maraknya tinplate impor asal China. Persoalan lain yang dihadapi perseroan adalah implementasi perubahan struktur bea masuk untuk produk tinplate.

"Hal ini mencakup penurunan atau penghapusan bea untuk kiriman produk dari negara tertentu sebagaimana diatur dalam perjanjian perdagangan bebas dan sebagai langkah mendorong investasi lokal," katanya.

"Dengan likuiditas yang semakin ketat dan aktivitas bisnis yang menurun, negara produsen dan eksportir yang besar. Contohnya Cina dalam hal produksi tinplate, mengincar pasar alternatif untuk menyerap produk surplus. Indonesia, yang dikenal dengan populasinya yang besar, sumber daya berlimpah dan tahan terhadap tekanan (keuangan) global, menjadi tujuan utama bagi eksportir tersebut," tambahnya.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads