Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, Kamis (29/3/2012), pendapatan perseroan mencatat kenaikan Rp 410 miliar dari Rp 8,33 triliun menjadi Rp 8,74 triliun. Pendapatan disumbang oleh penjualan logam timah dan tin solder Rp 7,98 triliun.
Perseroan juga mencatat penjualan batu bara Rp 685,61 miliar. Penjualan logam-logam lain diantaranya Rp 61,43 miliar, Jasa galangan kapal Rp 15,08 miliar, jasa eksplorasi Rp 3,058 miliar serta jasa listrik dan perbengkelan Rp 975 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun beban naik meski tipis dari Rp 6,415 triliun menjadi Rp 6,77 triliun. Laba kotor perseroan hingga Desember 2011 Rp 1,97 triliun, naik tipis dari sebelumnya Rp 1,924 triliun.
Laba sebelum pajak masih menunjukan pertumbuhan Rp 141 miliar dari Rp 1,127 triliun menjadi Rp 1,26 triliun. Sementara terjadi kenaikan beban pajak cukup tinggi dari Rp 179,36 miliar menjadi Rp 371,27 miliar.
Dengan demikian laba tahun berjalan pun langsung drop dari Rp 947,95 miliar menjadi Rp 896,8 miliar. Usai adanya penambahan keuntungan selisih kurs Rp 509 juta dan penurunan belum direalisasikan Rp 189 juta, laba bersih 2011 perseroan Rp 897,12 miliar.
Laba per saham juga turun dari Rp 188 per lembar menjadi Rp 178 per lembar. Sementara total aset BUMN timah ini naik menjadi Rp 6,56 triliun, dari sebelumnya Rp 5,88 triliun. Kewajiban pun tercatat Rp 1,971 triliun.
(wep/ang)











































