Menurut Ketua umum Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI), Abiprayadi Riyanto, paling ideal dalam mengelola reksa dana saham, manajer investasi (MI) memiliki portofolio 25-30 saham. Besaran portofolio ini terbilang ideal, karena risiko yang terukur dan menjanjikan keuntungan optimal.
"Dengan Indek baru, ini bisa menjadi benchmark untuk pengelolaan investasi," katanya di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (24/4/2012). IDX-30 menjadi acuan independen, dan MI bisa membawa kinerja ini kepada investor yang menitipkan dananya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, dengan munculnya indeks-indeks baru memunungkinkan perusahaan aset manajemen menghadirkan produk ETF. Basisnya kinerjanya adalah IDX-30, ataupun indeks perbankan, infrastruktur yang segera diluncurkan BEI dalam waktu dekat.
"Produk EFT kan kinerjanya mengikuti indeks. Jadi kinerjanya ikut. Naik ikut naik sama. Tentu kalau MI melihat potensi EFT ada pasti mereka akan keluarkan produk ini," ucapnya.
Diketahui pula dana kelolaan (asset under management) industri reksa dana hingga triwulan I-2012 mencapai Rp 193,135 triliun. AUM naik 14,8% (year to date) dari posisi akhir 2011, Rp 168,23 triliun.
Reksa dana saham masih mencatat AUM tertinggi, Rp 58,62 triliun. Disusul kemudian reksa dana pendapatan tetap Rp 42,506 triliun dan reksa dana terproteksi Rp 40,64 triliun. Lalu reksa dana campuran yang mencapai Rp 34,52 triliun.
Menarik disimak, reksa dana campuran mencatat pertumbuhan tertinggi 59% (ytd) dari akhir 2011 Rp 21,71 triliun. Investor reksa dana kini cenderung mendiversifikasi produknya dari yang selama ini berbasis saham, juga ke instrumen obligasi. Salah satu produk yang menampung portofolio saham dan obligasi adalah reksa dana campuran.
"Tahun lalu reksa dana campuran tumbuhnya paling tinggi. Investor saham juga akan masuk ke obligasi, karena melihat potensi yang ada," imbuhnya.
(wep/ang)











































