Penjualan outlet Starbucks yang sudah buka minimal 13 bulan mengalami penurunan 1% di Eropa, Timur Tengah dan Afrika selama triwulan pertama 2012. Sebaliknya, penjualan outlet Starbucks di Amerika malah naik 8%, begitu juga di China/Asia Pasifik mengalami kenaikan 18%.
Seperti dilansir dari CNBC (27/4/2012), imbas dari kenaikan laba bersih Starbucks sebanyak hampir 19% atau US$ 309,9 juta (Rp 2,82 triliun) harga saham Starbucks pun mengalami kenaikan. Per 1 April 2012, harga saham Starbucks naik dari US$ 0,34 (Rp 3,094) jadi US$ 0,40 (Rp 3,640) per lembarnya. Kenaikan laba didukung oleh pendapatan Starbucks yang meningkat 15% menjadi US$ 3,2 miliar (Rp 29,12 triliun).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, sudah ada solusi untuk mengatasi tingginya harga-harga bahan baku tersebut. Starbucks juga menargetkan pertumbuhan pendapatan melalui dibukanya 1000 outlet baru.
(ang/ang)











































