Tiga sekuritas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama ini memegang saham PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA) kehilangan Rp 320 miliar setelah menjual saham tersebut kepada Pemilik sekaligus Chairman CT Corp, Chairul Tanjung.
Pasalnya, ketiga sekuritas tersebut, yaitu PT Mandiri Sekuritas (CC), PT Danareksa Sekuritas (OD), dan PT Bahana Securities (DX), menyerap saham Garuda di harga penawaran perdana alias initial public offering (IPO) sebesar Rp 750 per lembar.
Sementara harga penjualan saham GIAA kepada CT dipatok hanya sebesar Rp 620 per lembar. Sehingga, ada kehilangan Rp 130 setiap lembarnya. Dengan jumlah saham yang dijual 2,466 miliar, maka kerugiannya Rp 320,7 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Eko, untung-rugi dalam transaksi saham memang tidak bisa dihindari dan sudah menjadi hal yang lumrah. Tergantung bagaimana menyikapinya saja.
"Kalau ada kejadian, memang kita enggak bisa hindari. Kita menyikapi dengan positif, jadi kita melihatnya begitu deh," ujarnya.
Selain itu, kata Eko, para pemegang saham Bahana juga sudah setuju dengan situasi yang terjadi dan sudah memaklumi dengan memberikan persetujuan supaya saham Garuda dijual.
Perseroan juga mengaku akan terus mengembangkan bisnisnya demi menutupi kerugian yang terjadi akibat saham Garuda tersebut. Bahana merupakan pemegang saham Garuda dengan jumlah cukup banyak, yaitu 2.136.705 lot.
"Oke, sekarang bagaimana mengatasi ini. Jadi saya nggak terkungkung dengan masalah. Oke ada kerugian, besok kita kerja lagi kita cari untung," jelasnya. (ang/dnl)











































