Batubara Berau Fokus dikirim ke China dan India

Batubara Berau Fokus dikirim ke China dan India

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Senin, 30 Apr 2012 14:02 WIB
Batubara Berau Fokus dikirim ke China dan India
Jakarta - PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) membidik produksi 23 juta ton di tahun 2012, dengan kisaran harga emas hitam yang perseroan jual mencapai US$ 79-80 per ton. Hasil produksi akan diutamakan untuk pasar ekspor dengan dua negara utama China dan India.

Demikian disampaikan Presiden Direktur BRAU, Rosan Perkasa Roeslina usai RUPS Luar Biasa, di Graha Niaga, Jakarta, Senin (30/4/2012). "Kita masih on track 23 juta ton, dengan harga batubara US$ 79-80 per ton," tuturnya.

Rosan menambahkan, hingga triwulan I-2012 perseroan telah mengatongi kontrak penjualan batubara 19,88 juta ton. 85% dari hasil bumi Kalimantan Berau mengacu pada harga kontrak, sedangkan sisanya dijual pada pasar spot.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sisanya akan dialokasikan buat on spot," tuturnya. Meski kisaran harga jual menurun dari US$ 81 per ton tahun lalu menjadi maksimal US$ 80 per ton di 2012, Rosan mengaku tidak khawatir.

Hasil produksi batubara tahun 2012 sekitar 75% juga dialokasikan untuk pasar ekspor. India dan China menjadi dua negara terbanyak pembeli batubara perseroan. Sisanya produksi 25% untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Seperti diketahui, triwulan I-2012 BRAU mencatat laba bersih US$ 17,31 juta, atau turun 58% dibandingkan periode sebelumnya, US$ 41,67 juta. Penjualan sejatinya meningkat 9% menjadi US$ 368,565 juta, dibanding periode yang sama tahun lalu.

Namun kenaikan beban penjualan 18,7% membawa laba kotor perseroan terperosok. Hingga Maret laba ini turun 6%. Beban operasi juga menurun 59%, hingga membawa laba usaha berkurang menjadi hanya US$ 94,03 juta. Laba usaha turun 17% dibandingkan triwulan I-2011 lalu.

Menurut Rosan, produksi di triwulan I perseroan juga belum terlampau baik. Akibat cuaca, produksi perseroan belum tumbuh signifikan. "Kalau bicara di kuartal pertama masih susah. Masih ada faktor hujan dan harga fluktuasi. Target masih dalam jangkauan kita," tegasnya.

"Baru akan membaik (produksi) setelah bulan Mei," ucap Rosan.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads