Direktur Utama Antam, Alwinsyah Lubis menjelaskan, peningkatan laba disebabkan oleh naiknya volume jual barang-barang tambah seperti feronikel, bijih nikel dan emas.
"Ditengah penurunan harga nikel, kinerja Antam tetap solid. Permintaan nikel dan emas masih kuat, mendukung capaian kinerja keuangan kami," kata Alwin dalam rilisya seperti dikutip detikFinance, Selasa (1/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penjualan feronikel tercatat Rp 774 miliar atau 31% dari total penjualan ANTM. Volume jual feronikel naik tinggi 99% manjadi 4.402 tok TNi. Ini disebabkan oleh tibanya pengiriman feronikel ke konsumen yang dikapalkan akhir 2011 lalu dan awal 2012. Namun produksi feronikel turun 25% di triwulan I-2012 menjadi 3.631 TNi, karena pekerjaan optimasi pabrik FeNi II yang mulai berjalan Januari lalu.
"Masih kuatnya permintaan atas bijih nikel menjadikan volume penjualan bijih nikel naik 9% menjadi 1.769.649 wmt. Meski demikian, penjualan bersih dari bijih nikel hanya naik 1% menjadi Rp 663 miliar akibat penurunan harga jual. Produksi bijih nikel Antam naik 5% menjadi 2.118.473 wmt," ucapnya.
Sementara permintaan emas, lanjut Alwin, masih kuat. Volume penjualan logam mulia perseroan di triwulan I-2012 naik 3% menjadi 1.783 kg. Namun produksi emas turun 3% menjadi 570 kg.
"Peningkatan volume penjualan yang didukung dengan kenaikan harga emas sebesar 24% menjadi US$1.745,72 per toz, menjadikan pendapatan dari emas naik 31% menjadi Rp 911 miliar," tegasnya.
Antam juga membukukan penghasilan lain-lain (net) Rp 135 miliar, khususnya dari dividen entitas pertambangan ventura bersama, PT Nusa Halmahera Minerals. Untuk kinerja kas dan setara kas, ANTM masih mencatat angka Rp 5,9 triliun. Jumlah interest bearing debt Rp 3 triliun yang merupakan hutang obligasi.
(wep/ang)











































