Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dipublikasi, seperti dikutip detikFinance Selasa (1/5/2012), kinerja ini disebabkan oleh merosotnya produksi nikel serta adanya perbaikan pada tanur listrik.
Director and Chief Financial Officer Vale Indonesia, Fabio Bechara, menjelaskan harga nikel sempat naik awal Januari namun kemudian turun setangahnya di akhir Triwulan I-2012. Rata-rata harga turun 24% dari US$ 20,24 per meterik ton menjadi US$ 15,47 per metrik ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga pokok penjualan di triwulan I-2012 justru meningkat 10% dari US$ 154,8 juta menjadi US$ 170,9 juta. "Ini disebabkan oleh biaya jasa, kontrak serta biaya karyawan yang tinggi," tambahnya.
EBITDA perseroan juga merosot tajam dari US$ 172,7 juta menjadi hanya US$ 33,8 juta. Ini lagi-lagi disebabkan oleh rendahnya hasil jual volume produk sepanjang Januari-Maret 2012.
Pada periode yang sama diketahui pula, penjualan nikel perseroan mencapai 12.514 metrik ton. Penjualan mengalami penurunan 21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ia menegaskan, perbaikan tanur listrik masih terus dilakukan, termasuk pemanasan ulang tungku yang rencananya dikerjakan triwulan II-2012. Seluruh tanur listrik II akan beroperasi normal kembali Mei 2012, dan diharapkan akan memperbaiki volume produksi di tahun ini.
(wep/ang)











































