Perbankan Mulai Tertarik Jual Obligasi Ritel
Jumat, 13 Agu 2004 11:20 WIB
Jakarta -
Selain perusahaan sekuritas, kalangan perbankan juga mulai tertarik menjual obligasi ritel kepada nasabahnya. Penjualan obligasi ritel diharapkan bisa memperluas basis investor dan meningkatkan likuiditas pasar obligasi."Mengembangkan obligasi ritel perlu proses dan waktu karena potensinya sangat bagus. Sekarang tidak hanya perusahaan sekuritas, perbankan juga mulai menjual obligasi ritel kepada nasabah melalui cabangnya yang banyak," kata Direktur Fixed Income PT Trimegah Securities Tbk, Desimon, kepada wartawan di gedung Bursa Efek Jakarta, Jl. Jenderal Sudirman, Jumat (13/8/2004).Disebutkan, perbankan yang sudah mulai menjual obligasi ritel adalah Citibank, dimana bank itu menjual obligasi pemerintah kepada nasabahnya. Sedangkan PT Trimegah Securities memulai penjualan obligasi ritel dengan obligasi korporasi Trimegah yang baru dikeluarkan sebesar Rp 300 miliar. Namun ke depan, Trimegah juga akan menjual secara ritel obligasi korporasi lainnya, termasuk obligasi pemerintah (Surat Utang Negara/SUN).Untuk penjualan obligasi korporasi dalam bentuk ritel, lanjut dia, minimal harus memperoleh rating A. Hal itu karena risikonya lebih rendah, walaupun imbal hasilnya (yield) tidak begitu tinggi. Berbeda dengan obligasi yang ratingnya rendah, namun memberi yield yang tinggi. "Jadi nanti tergantung nasabahnya. Inginnya yang mana? Tapi kalau untuk pemula lebih baik yang risikonya rendah," imbau dia.Untuk pengembangan obligasi ritel, menurut Desimon, membutuhkan 3-5 tahun dimana dalam jangka waktu tersebut keberadaan obligasi ritel baru akan terasa. "Sama seperti dulu saat reksa dana, baru belakangan ini orang sudah banyak mengenal reksa dana," kata mantan direktur eksekutif PT Danareksa ini.Suku Bunga The FedMengenai naiknya suku bunga The Fed di level 1,5 persen, menurut Desimon, tidak akan memberi banyak pengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Pasalnya, AS saat ini masih mengalami selisih suku bunga dan inflasi yang negatif (negative interest real/NRI), dimana sebelumnya suku bunga hanya 1 persen dan inflasi 3,3 persen sehingga terjadi NRI 2,3 persen.Untuk itu, AS perlu menaikkan suku bunganya sehubungan membaiknya ekonomi AS agar NRI-nya kembali positif. "Hal ini berbeda dengan Indonesia yang sudah mengalami positive interest real, dimana antara suku bunga dan inflasi masih ada ruang positif," ungkapnya.Sedangkan tentang kenaikan inflasi yang terjadi belakangan ini, menurut dia, bukan karena pertumbuhan ekonomi yang naik, tetapi karena faktor konsumsi yang meningkat seperti adanya pemilu dan biaya pendidikan. Kondisi ini diperkirakan akan membuat inflasi tahun depan lebih rendah dibanding tahun ini."Makanya investor asing juga sudah mulai mengincar obligasi jangka panjang di Indonesia karena melihat masih ada ruang untuk tahun depan suku bunga turun sehingga harga obligasi naik," demikian Desimon.
(ani/)










































