Nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS di April 2012. Namun Bank Indonesia (BI) mengungkapkan volatilitas rupiah relatif masih terjaga.
"Pada bulan April 2012, rupiah secara point-to-point melemah sebesar 0,51% (mtm) ke level Rp 9.191 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 0,27% (mtm) menjadi Rp 9.166 per dolar AS," ungkap Juru Bicara BI, Dody Budi Waluyo dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (12/4/2012).
BI melihat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan impor sejalan dengan masih kuatnya kegiatan ekonomi domestik, dan ketidakpastian perekonomian global. Untuk menjaga keseimbangan pasar valas, BI terus memonitor dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi volatilitas yang berlebihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, meskipun mengalami tekanan pada triwulan I-2012, semakin besarnya arus masuk modal asing akan mendukung surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk keseluruhan tahun 2012.
Selama triwulan I-2012, transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar US$ 2,2 miliar, ditopang oleh arus masuk investasi asing langsung (FDI) dan portofolio. Namun di sisi lain, transaksi berjalan pada triwulan I-2012 mengalami defisit sebesar US$ 2,9 miliar akibat tingginya impor, khususnya minyak dan gas, di tengah pertumbuhan ekspor yang melambat.
Ke depan, kinerja neraca pembayaran diprakirakan membaik seiring dengan menurunnya defisit transaksi berjalan dan meningkatnya aliran modal masuk, baik investasi langsung maupun portofolio.
"Sementara itu, cadangan devisa sampai dengan akhir April 2012 mencapai US$ 116,4 miliar, atau setara dengan 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah," tutup Dody. (dru/dnl)











































