Tekan Rugi Kurs, Indofood Cari Pembiayaan Murah
Senin, 16 Agu 2004 12:10 WIB
Jakarta - PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) akan berupaya mencari peluang alternatif pembiayaan yang lebih murah dalam rangka memperkecil risiko kerugian nilai kurs. Pada semester pertama tahun 2004, Indofood mencatat rugi kurs Rp 277 miliar, dibandingkan semester pertama 2003 yang untung Rp 73 miliar."Sebagai bagian dari program debt management yang berkelanjutan, Indofood secara terus-menerus mencari peluang untuk memperoleh alternatif sumber pembiayaan yang lebih murah dan untuk memperkecil risiko kerugian nilai tukar valuta asing," kata Anthoni Salim, Direktur Utama & CEO Indofood, dalam siaran pers mengenai kinerja semester pertama tahun 2004.Namun sayangnya tidak disebutkan alternatif sumber pembiayaan apa yang akan dilakukan. Namun di kalangan pelaku pasar, ada dugaan Indofood akan kembali menerbitkan obligasi dengan memakai laporan keuangan semester pertama 2004 yang telah diaudit. Sebelumnya, pada Juli 2004, Indofood menerbitkan obligasi ketiga sebesar Rp 1 triliun.Indofood dikabarkan tengah bersiap diri untuk melakukan kontrak perjanjian pendahuluan pencatatan efek (KP3E) obligasi ke-4 senilai Rp 1,5 triliun hingga Rp 2,5 triliun. Sementara empat sekuritas telah ditunjuk menjadi penjamin emisi obligasi tersebut yakni PT Trimegah Securities, PT Mandiri Sekuritas, PT Danatama Makmur Securities dan PT NC Securities. Namun belum ada penjelasan lebih lanjut dari pihak Indofood mengenai rencana penerbitan penjamin obligasi tersebut.Dijelaskan Anthoni, dalam rangka menekan kerugian akibat kurs, Indofood juga tetap mempertahankan hedging policy-nya, dimana per 30 Juni 2004 memiliki kontrak lindung nilai Principal Only Swap (POS) sebesar US$ 250 juta.Anthoni menambahkan, Indofood akan tetap berupaya mengambil manfaat yang lebih besar atas skala ekonominya dan memanfaatkan peluang yang ada untuk menurunkan biaya serta meningkatkan efisiensi dalam kegiatan operasionalnya. Selain itu, Indofood akan lebih merampingkan rantai suplai kepada para pelanggannya agar dapat memberikan respon yang lebih cepat atas peluang pasar dan guna memastikan penggunaan modal kerja secara lebih efektif dan efisien.Kinerja Semester I 2004Sepanjang enam bulan pertama tahun 2004, Indofood mencatat penjualan bersih Rp 8,6 triliun, naik dibandingkan semester pertama tahun 2003 yang mencapai Rp 8,4 triliun. Pendapatan ekspor pada semester pertama tahun 2004 mencapai US$ 146 juta, yang merupakan 15 persen dari jumlah penjualan perseroan.Divisi mi instan, tepung terigu, minyak goreng dan lemak nabati merupakan kontributor utama atas penjualan konsolidasi perseroan yang memberikan kontribusi keseluruhan sebesar 87 persen yang berjumlah Rp 7,4 triliun, dimana semester pertama 2003 sebesar Rp 7,3 triliun.Laba kotor perseroan naik 12 persen menjadi Rp 2,2 triliun dibandingkan semester pertama 2003 sebesar Rp 2 triliun. Sedangkan laba usaha naik 16 persen menjadi Rp 1 triliun, dibandingkan semester pertama 2003 sebesar Rp 867,2 miliar.Namun laba bersih perseroan mengalami penurunan 62 persen menjadi Rp 116,8 miliar, dibandingkan semester pertama 2003 sebesar Rp 308,9 miliar. Hal itu terutama disebabkan kerugian bersih nilai tukar rupiah terhadap dolar AS selama semester pertama tahun 2004 sebesar Rp 277 miliar, dibandingkan dengan keuntungan bersih nilai tukar rupiah di tahun 2003 sebesar Rp 73 miliar.Melemahnya nilai tukar rupiah sekitar 10 persen dan kerugian atas unwinding kontrak hedging pada kuartal pertama 2004 sebesar US$ 60 juta merupakan penyebab utama atas terjadinya kerugian nilai tukar valuta asing.
(ani/)











































