3 Alasan Saham Facebook Susah Naik

3 Alasan Saham Facebook Susah Naik

- detikFinance
Rabu, 23 Mei 2012 11:18 WIB
3 Alasan Saham Facebook Susah Naik
Jakarta - Facebook (FB) kembali anjlok 9% di penutupan perdagangan hari kedua. Kini harga saham FB semakin menjauhi level penawaran perdana US$ 38 dan terpangkas 20% menjadi US$ 31 per lembarnya. Para pemegang saham yang sudah membeli kini berpikir keras, lepas atau tahan dulu?

Kasus yang sama berlaku pada pembeli saham Google (GOOG) yang debut di lantai bursa pada 2004. Kini harga sahamnya sudah naik enam kali lipat dari penawaran perdana.

Seperti Facebook, Google murni bisnis online dengan penguasaan pasar dominan. Penghasilan Google sebagian besar diperoleh dari iklan. Saham Google juga dulu dianggap terlalu mahal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, ada beberapa perbedaan penting di antara keduanya yang menghambat perkembangan performa saham Facebook untuk menjadi seperti Google dalam delapan tahun ke depan. Inilah tiga alasannya, seperti dilansir dari Smart Money, Rabu (23/5/2012):

1. Harga IPO Facebook dua kali lipat lebih mahal daripada Google
Saat Google jual saham di bursa pada Agustus 2004, mereka mencatatkan pendapatan US$ 2,3 miliar di tahun sebelumnya. Perdagangan hari pertama ditutup dengan harga saham yang memberi Google nilai US$ 27 miliar. Dengan ini, rasio harga dan pendapatan Google adalah 12.

Sementara perdagangan Facebook ditutup Senin dengan nilai US$ 93 miliar dengan pendapatan USD 4 milyar sepanjang empat triwulan terakhir. Maka rasio harga dan pendapatan Facebook adalah 23.

Google sudah menemukan cara untuk melipatgandakan pendapatannya hingga 17 kali lipat menjadi US$ 40 miliar sejak IPO. Jika Facebook bisa melakukan hal yang sama, investor bisa berharap harga sahamnya akan naik setidaknya separuh karena harga IPO-nya pun dua kali lipat Google. Tapi sepertinya kurang realistis mengharapkan pertumbuhan pendapatan sepesat itu dari Facebook.

2. Google menguasai pangsa pasar iklan
Kembali ke tahun 2004. Menurut Zenith Optimedia, saat itu porsi belanja iklan di koran dan majalah mencapai 43,8% dan website hanya 3,7%. Sekarang, jarak tersebut semakin menyempit. Tahun ini, komposisi koran dan majalah turun jadi 27,3% sementara 18,2% 'lari' ke iklan website.

Pergantian beriklan di media cetak ke online akan terus berlanjut tapi tidak cepat. Zenith Optimedia memprediksikan, pada 2014 website bisa mulai 'menyalip' media cetak dengan komposisi iklan 22,1% berbanding 24,1% untuk koran dan majalah.

Dalam kata lain, Google sudah jauh lebih unggul dalam bisnis periklanan online. Sementara media cetak yang melemah sibuk membangun website baru supaya tidak kalah bersaing. Dengan demikian, Facebook harus bersaing dengan website media cetak yang lebih kuat dan si raksasa online, Google.

3. Dunia tak butuh banyak iklan
Coba saja jika Facebook bisa mengubah traffic-nya menjadi pundi-pundi uang dari iklan. Bukannya mereka bisa melipatgandakan pendapatannya hingga 17 kali lipat selama delapan tahun mendatang, seperti yang dilakukan Google dalam delapan tahun terakhir? Lagipula, basis pengguna aktif Facebook mencapai 13% jumlah penduduk dunia.

Tapi ada masalah dengan pemikiran tersebut. Kebangkitan Google tidak menghambat media cetak berjualan iklan. Malah mereka menciptakan harga untuk iklan-iklan seperti itu. Sebagai contoh, Google AdSense memungkinkan pemilik website menjual iklan dengan bersatu bersama setumpuk website lainnya. Hasilnya, limpahan halaman baru yang tersedia untuk beriklan. Menciptakan lebih banyak persediaan daripada permintaan.

Untuk perusahaan sebesar Facebook, hal ini menjadi dilema. Jika mereka tidak belajar bagaimana cara berjualan iklan yang efektif menghadapi trafiknya yang luar biasa besar, pendapatan Facebook tidak akan tumbuh cepat. Tapi jika Facebook tidak belajar, hasilnya bisa saja harga iklan Facebook turun karena persediaan berlebih. Akibatnya, pertumbuhan pendapatan flat.

Zenith Optimedia memperkirakan belanja iklan global akan naik 4,8% tahun ini. Sementara pendapatan Facebook diprediksi para analis akan meningkat 36% menjadi US$ 5,1 miliar. Pertumbuhan ini sangat cepat dan menandakan Facebook menguasai pasar. Tapi masih awal sekali bagi perusahaan yang baru saja go public ini.

Untuk menjaga performa sahamnya dalam jangka panjang, industri periklanan Facebook harus terus tumbuh dengan margin yang tak jauh berbeda untuk beberapa tahun mendatang. Google berhasil melakukannya. Tapi dalam tahun pertamanya sebagai perusahaan terbuka, pendapatan Google tidak hanya tumbuh 36%. Melainkan dua kali lipat lebih.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads