Pengelola bisnis balapan paling akbar di dunia, Formula 1 (F1), mempercepat usahanya mencatatkan saham perdana (Initial Public Offering) di bursa Singapura atau Singapore Exchange (SGX).
Otoritas SGX, seperti dikutip CNN dari laporan media setempat, Rabu (23/5/2012), telah memberi 'lampu hijau' atas permohonan IPO Formula 1. Penawaran saham perdana kali akan menjadi salah satu yang terbesar, karena dana yang bisa F1 raih dari publik mencapai US$ 3 miliar.
IPO Formula 1 ini menjadi yang terbesar kedua di kawasan, setelah Hong Kong tycoon Li Ka-Shing's Hutchison Port Holdings Trust melakukan hal yang sama tahun lalu. Hutchison mampu meraih dana US$ 5,5 miliar dari bursa saham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"IPO akan memberi kredibilitas F1 jauh lebih baik dan meningkatkan permodalan perusahaan," kata Peter Elston, Kepala Strategi Asia-Pasifik dan Asset Allocation Aberdeen Asset Management's Asian unit, Rabu (23/5/2012).
Meski demikian, pesimisme IPO Formula 1 datang dari Justin Harper, analis pasar dari IG Markets Singapura. Ia khawatir realisasi IPO F1 bernasib sama dengan Facebook yang turun sejak perdagangan perdana.
"Ini mirip seperti Facebook. Saat Anda terjebak dalam keriuhan dari Facebook, pun demikian dengan F1. Formula 1 bisa saja tidak cukup didukung pasar," tutur Justin.
Penting diketahui, kini banyak perusahaan besar dunia 'lari' ke Asia, karena krisis ekonomi Eropa yang berkepanjangan. Perusahaan mencoba peruntungan pada pasar investasi Singapura dan Hong Kong. Tahun lalu, klub Manchester United melakukannya. Sebagai klub dengan suporter terbanyak di Asia, MU pede mencatatkan sahamnya di bursa Singapura dan telah mengantongi dana sekitar US$ 1 miiliar.
Meski memiliki omzet besar, MU juga menanggung utang bersih hingga US$ 498,7 juta. Ini menjadi tantangan keluarga Glazer pemilik mayoritas saham MU asal AS, untuk berbenah. (/)











































