Bursa Tak Terpengaruh RAPBN, IHSG Turun 3,970 Poin
Senin, 16 Agu 2004 16:30 WIB
Jakarta - Pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (16/8/2004), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) turun 3,970 poin pada level 751,950. Perdagangan saham hari ini berlangsung sepi karena investor banyak yang tidak melakukan aktivitas perdagangan karena besok libur HUT Kemerdekaan RI.Pidato Presiden Megawati di hadapan sidang paripurna DPR untuk menyampaikan RAPBN 2005 dan nota keuangan juga tidak memberi sentimen terhadap perdagangan BEJ. Pelaku pasar justru lebih khawatir terhadap harga minyak dunia yang merangkak naik.Indeks LQ-45 yang terdiri dari 45 saham yang paling aktif ditransaksikan turun 1,041 poin pada level 163,485, Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,706 poin pada level 125,264, Indeks Papan Utama (MBX) turun 0,750 poin pada level 200,991 dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 1,308 poin pada level 174,928.Perdagangan di pasar reguler berjalan sepi dengan transaksi yang terjadi sebanyak 5.158 kali pada volume 512.764 lot saham senilai Rp 262,287 miliar. Sebanyak 29 saham masih mencatat kenaikan harga, sementara 66 saham mengalami penurunan harga dan 285 saham lainnya tidak mengalami perubahan alias stagnan.Saham-saham yang mengalami penurunan harga di jajaran top loser di antaranya Bank Danamon (BDMN) turun Rp 75 menjadi Rp 3.450, Timah (TINS) turun Rp 50 menjadi Rp 1.975, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 50 menjadi Rp 13.300, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 50 menjadi Rp 5.350, Indofood (INDF) turun Rp 25 menjadi Rp 675, Indosat (ISAT) turun Rp 25 menjadi Rp 4.150 dan Bank BCA (BBCA) turun Rp 25 menjadi Rp 1.800.Sedangkan di deretan top gainer, saham-saham yang mencatat kenaikan harga antara lain Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) naik Rp 125 menjadi Rp 1.125, Indosiar (IDSR) naik Rp 25 menjadi Rp 600, London Sumatera (LSIP) naik Rp 25 menjadi Rp 1.075, Gajah Tunggal (GJTL) naik Rp 25 menjadi Rp 550 serta Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) naik Rp 20 menjadi Rp 300.Menurut Baradita Katoppo, Head of Research Kim Eng Securities, kenaikan harga minyak menjadi faktor pemicu melemahnya harga saham-saham dunia, termasuk di Indonesia. Investor khawatir bukan karena tingginya harga minyak, melainkan belum ada tren penurunan terhadap harga minyak.Jika harga minyak terus naik, maka pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan melemah, sedangkan inflasi bakal naik. Menurut dia, selama harga minyak masih tinggi, pasar akan grogi, akibatnya investor juga lebih banyak bersikap wait and see atau menjual sahamnya.Mengenai RAPBN 2005, menurut Baradita, tidak terlalu memberikan pengaruh terhadap pergerakan harga saham di BEJ. Hal senada juga dikemukakan ekonom UI, M. Chatib Basri.Menurut Basri, tidak adanya stimulus perekonomian dalam RAPBN 2005 tidak akan berdampak pada kinerja emiten, sehingga sulit mengharapkan dampak positif RAPBN 2005 terhadap pasar modal di Indonesia. Investor melihat RAPBN saat ini masih terbuka peluang untuk direvisi karena dibuat oleh pemerintah yang sebentar lagi berakhir masa tugasnya.
(ani/)











































