Lewat Go Public, Lapangan Kerja Semakin Banyak

Lewat Go Public, Lapangan Kerja Semakin Banyak

Metta Pranata - detikFinance
Senin, 28 Mei 2012 11:09 WIB
Lewat Go Public, Lapangan Kerja Semakin Banyak
Jakarta - Salah satu tujuan dari JOBS Act yang baru-baru ini ditandatangani Presiden Barack Obama adalah memudahkan perusahaan baru dan kecil untuk masuk bursa atau go public (Initial Public Offering/IPO). Menurut Obama, JOBS Act bisa membantu para pengusaha meningkatkan modal yang dibutuhkan untuk membuka lapangan kerja baru bagi warga Amerika.

Memberikan perusahaan yang sedang bertumbuh pesat akses ke uang yang lebih cepat dari investor umum, sehingga mereka bisa ekspansi lebih cepat dan mempekerjakan lebih banyak orang. Hasil riset dari National Venture Capital Association yang dikutip detikFinance (28/5/2012) menjelaskan sebanyak 92% pertumbuhan lapangan kerja untuk perusahaan muda muncul setelah initial public offerings (IPO).

Hasil riset itu juga menyimpulkan bahwa sebuah perusahaan dengan 100 karyawan saat IPO diperkirakan bisa mempekerjakan hingga 900 orang lagi di tahun berikutnya. Angka 92% itu digunakan saat upaya lobi mendukung JOBS Act.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun sebuah laporan terbaru dari Kauffman Foundation yang mempromosikan kewirausahaan malah menyebut estimasi tersebut terlalu tinggi. “Kebijakan konvensional adalah, perusahaan go public untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja,” kata Jay Ritter, profesor keuangan di University of Florida yang ikut menulis studi tersebut.

“Jumlah yang terus menerus disebutkan oleh pelobi modal ventura itu terlalu berlebihan bila dihadapkan dengan hasil rata-rata yang biasa sebuah IPO capai,” jelas Ritter.

Studi Kauffman Foundation tersebut menemukan bahwa perusahaan-perusahaan yang go public dari 1996 hingga 2010, secara agregat, jumlah karyawannya telah meningkat 45% dibanding sebelum IPO.

Meskipun demikian, banyak IPO yang tidak berasal dari perusahaan muda dan bertumbuh namun dari sektor bisnis lain. Termasuk perusahaan matang seperti UPS yang didirikan 90 tahun sebelum waktu IPO-nya. Perusahaan muda dan bertumbuh seperti Ritter yang usianya kurang dari 30 tahun telah menggandakan jumlah karyawannya hingga 2 kali lipat dari level IPO-nya sepanjang 2010.

Studi Kauffman mengatakan, perusahaan sejenis ini tidak akan pernah bisa menggandakan pertumbuhan jumlah karyawan hingga 9 kali lipat setelah go public seperti yang digadang-gadang NVCA.

Angka 92% itu berasal dari riset yang dilakukan IHS Global Insight sebagai pihak yang ditunjuk oleh NVCA pada 2009. Vice President his, Mark Lauritano mengatakan firma yang mereka ukur adalah 200 perusahaan sokongan ventura dengan kapitalisasi pasar terbesar dan telah IPO sejak 1970 hingga sekarang.

“Studi tersebut tidak bias. 90% angka pertumbuhan itu benar-benar mewakili kisaran batas atas penciptaan lapangan kerja karena berdasarkan perusahaan sokongan modal ventura terbuka terbesar yang berhasil melalui jatuh bangun sepanjang siklus bisnisnya,” kata Lauritano.

Tidak berarti melambatnya laju IPO selama satu dekade terakhir berdampak langsung pada pertumbuhan lapangan kerja. Studi Kauffman menyebutkan, jika perusahaan-perusahaan go public mulai 2001 hingga sekarang di tingkat yang sama semasa 1980 – 2000, mereka mungkin bisa menciptakan 1.9 juta lapangan kerja baru.

Sangat penting memiliki pasar IPO aktif memfasilitasi pengumpulan modal ventura dan investasi. Jika para pemodal ventura tidak memiliki jalan keluar seperti itu, makin sulit mendapatkan uang untuk berinvestasi pada start-up. Memudahkan start-up untuk bisa go public mungkin tidak akan membuka lapangan kerja baru sebanyak yang dipikirkan oleh pendukung JOBS Act.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads