Bank Indonesia (BI) mengakui nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung melemah. Hal ini dikarenakan sentimen negatif dari krisis ekonomi yang terjadi di Eropa. Namun bank sentral percaya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat masih berprospek cerah.
Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan nilai tukar rupiah rata-rata dari awal 2012 hingga 25 Mei 2012 melemah 37,8% dibandingkan akhir tahun 2011.
"Memang akibat krisis global seperti dieropa dengan berbagai isu yang terjadi disana membuat akhir-akhir minggu ini pasar kadang risk on kadang risk off (kadang cerah kadang suram) namun kami memprediksi nilai tukar rupiah masih prospek," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Darmin pelemahan mata uang ini lebih dikarenakan faktor krisis global yang juga berdampak hampir semua mata uang negara lainnya, terkecuali mata uang Jepang.
"Dorongan lebih besar terhadap melemahnya rupiah ini dikarenakan tingginya angka impor dan lemahnya produksi dalam negeri dalam memproduksi suatu barang. Sementara nilai ekspor justru sedikit menurun," ujar Darmin.
Dikatakan Darmin, jika melihat pergerakan rupiah kedepan dengan membaiknya ekonomi global pada paruh kedua, angka peningkatan ekspor dan neraca transaksi berjalan akan terjadi. Sehingga, sambungnya nilai tukar rupiah diperkirakan pada tahun ini akan mencapai diangka Rp 9.100-Rp 9.300 per dolar.
"Prediksi yang sama akan terjadi pada 2013 nilai tukar rupiah akan diperkirakan akan menyentuh Rp 9.100-Rp 9.300 per dolar," tuturnya.
Darmin juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 diperkirakan akan mencapai 6,4%-6,8%.
"Situasi perekonomian global khususnya penyelesaian krisis eropa memang harus tetap diwaspadai, namun melihat berbagai asumsi-asumsi makro, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 dapat mencapai 6,4%-6,8%," ujar Darmin.
(rrd/dru)
