"Untuk BTN kalau bisa sebelum Oktober," kata Deputi Menteri BUMN Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi, Pandu Djajanto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (8/6/2012).
Sesuai rencana BTN, dana yang akan didapat dari penerbitan saham perdana ini mencapai Rp 2 triliun. Seluruh dana digunakan untuk ekspansi usaha pembiayaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lebaran nggak ngaruh. Kalau kita liat, secara makro tidak ada lagi tempat untuk placing termasuk China. Selama ini yang meramaikan capital market kita adalah asing dan secara harian dinaminasi transaksi tebel (tinggi). Artinya, pasar saham kita dipercaya investor," paparnya.
Direktur Utama BTN, Iqbal Latanro sebelumnya menerangkan, usai rights issue kepemilikan publik atas saham BBTN naik menjadi 40%. "Kepemilikan saat ini publik dan pemerintah 29:71. Kita boleh delusi saham menjadi 60%-61% pemerintah. Publik 39%-40%," papar Iqbal.
Sebagai penjamin pelaksana emisi, perseroan bersama Kementerian BUMN telah menunjuk PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas. Bahana ditunjuk sebagai join lead underwriter.
Ketiga sekuritas BUMN kemudian akan menggandeng broker asing dalam usaha menjajakan saham BTN kepada investor luar negeri. "Untuk asingnya, mereka (Bahana) yang tetapkan supaya equal. Jadi yang menentukan international sales," tegas Pandu.
(wep/ang)











































