Garap Bisnis Tambang, Eatertainment Rights Issue Rp 410 Miliar

Garap Bisnis Tambang, Eatertainment Rights Issue Rp 410 Miliar

- detikFinance
Senin, 18 Jun 2012 18:22 WIB
Garap Bisnis Tambang, Eatertainment Rights Issue Rp 410 Miliar
Jakarta - PT Eatertainment International Tbk (SMMT) siap menggarap bisnis tambang dengan mengakuisisi dua perusahaan di Sumatera dan Kalimantan. Dalam akuisisi, perseroan siap menerbitkan saham baru atau rights issue.

Komisaris Utama SMMT Darjoto Setyawan menerangkan, perseroan siap mengeluarkan 820 juta saham baru dengan harga sekitar Rp 500 per lembar. Total dana yang didapat perseroan mencapai Rp 410 miliar.

Selain itu, perseroan juga akan meningkatkan modal dasar dari Rp 160 miliar menjadi Rp 450 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Utama SMMT, Hendra Surya, menambahkan, akusisi ini menjadi tanda berubahnya bisnis inti perseroan yang sebelumnya sebagai pengelola resto cepat saji. Dana sekitar Rp 282 miliar akan digunakan untuk mengakusisi dua perusahaan tambang tersebut.

Jadwal pelaksanaan rights issue pada 2 Juli-6 Juli mendatang. Proses akan tuntas di 13 Juli. Setiap 4 saham lama berhak atas 41 HMETD, dan ditukarkan dengan jumlah yang sama saham baru.

Dalam penawaran saham perdana ini, perseroan juga mendapat pembeli siaga yakni Cardinal Internasional Holding Ltd dan Eagle Energy Internasional Holding Ltd. Kedua perusahaan ini terafiliasi dengan grup Rajawali.

Perseroan akan mengambil alih 99,12% saham PT Nagamas Makmur Jaya (NMJ) yang secara tidak langsung menguasai 39% di PT Internasional Prima Coal (IPC). Nama terakhir merupakan anak usaha bersama antara grup Rajawali Grup dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Nilai akuisisi ini mencapai Rp 146 miliar.

Kemudian, perseroan akan menempatkan saham di PT Rajawali Resources. Rajawali merupakan pemilik dari 85% saham PT Triaryani. Triaryani adalah pemegang konsesi batubara di Sumatera Selatan seluas 2.100 ha dengan nilai Rp 137 miliar.

Direktur SMMT Abed Nego menegaskan, IPC sudah beroperasi 100 ribu ton per bulan. Sebagian besar produksi IPC diekspor ke pasar luar negeri, khususnya China.

"Kami juga sekarang sedang mulai pengapalan ke Filipina, dan ada juga ke India dan Thailand," imbuh Abed saat ditemui di Ballroom Ritz Carlton, Jakarta, Senin (18/6/2012).

(wep/nia)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads