Bos PGN: Ramai Soal Harga Gas Naik, Negara Rugi Rp 7 T

Bos PGN: Ramai Soal Harga Gas Naik, Negara Rugi Rp 7 T

Ramdhania El Hida - detikFinance
Minggu, 24 Jun 2012 17:42 WIB
Bos PGN: Ramai Soal Harga Gas Naik, Negara Rugi Rp 7 T
Jakarta -

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk mengaku mengalami penurunan harga saham semenjak perusahaan penyalur gas ini diterpa isu terkait kenaikan harga gas.

Direktur Utama PT PGN Tbk Hendi Prio Santoso mengaku akibat goncangan isu tersebut, pihaknya telah merugi sekitar Rp 12 triliun di mana kerugian negara sebagai pemegang saham utama mencapai Rp 7 triliun.

"Saya khawatir masalah perspektif dan persepsi, saya cek kekayaan negara turun hampir Rp 7 trilun gara gonjang ganjing isu harga ini di media, investor kita pada ketakutan. Jadi kapitalisasi pasar itu adalah cerminan kekayaaan pemegang saham di PGN, itu sudah turun Rp 12 triliun lebih," ujarnya dalam bincang wartawan di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Minggu (24/6/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penurunan harga saham tersebut, lanjut Hendi, terjadi pada akhir Mei 2012. Menurutnya, hal ini terjadi karena isu kenaikan harga gas tersebut dijadikan polemik di tengah masyarakat.

"Tertinggi kita di akhir Mei, itu market cap turun sekitar Rp 12 triliun lebih, kan negara miliknya 60 persenan, jadi negara ikutan turun kekayaannya Rp 7 triliun, itu akibat dipolemikkan gitu," keluhnya.

Hendi berharap seluruh pihak yang terkait dengan masalah ini dapat mengerti alasan perusahaannya melakukan penyesuaian harga gas ini.

"Padahal kita harus berpikir jernih, karena kan yang dapat manfaat dari pengembangan jaringan ini kan masyarakat. Kalau investasi dari pasar modal turun, kita bagaimana mengembangkan ke depan," ujarnya.

Menanggapi kenaikan harga gas yang dilakukan PGN, Hendi menegaskan hal ini juga guna memberikan kepastian kepada pemegang saham bahwa perusahaan pelat merah ini masih memiliki strategi dalam mengembangkan usahanya.

"Kita sama sekali tidak menambah margin, tapi kalau mau menurunkan, sekarang analoginya, ada gak yang mau gajinya diturunkan. Nah, ini memberikan dampak buruk, nanti pasar melihatnya perusahaan kita bisa diobok-obok terus dan akan memberikan dampak pada pasar modal kita karena perusahaan sudah Tbk," pungkasnya.

(nia/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads