Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) pesimistis tercapainya target 25 emiten baru tahun 2012, mengingat kondisi pasar global yang belum stabil. Meski banyak perusahaan yang menyatakan minatnya menjadi emiten, namun keputusan tetap ada ditangan penjamin pelaksana emisi (underwriter). Apakah mereka berani mengeksekusi keinginan calon emiten?
"Apakah 25 emiten bisa tercapai? Tergantung industrinya. Apakah karena krisis global atau seperti apa. Informasi dari penjaminnya, bisa nggak menjaminkan?," jelas Direktur Eksekutif AEI, Isaka Yoga di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (25/6/2012).
"Untuk 25 akan berat. Emiten dalam keputusan IPO pasti sudah dirancang. Mereka menetapkan semuanya, tetapi keputusan bukan ada di tangan satu lembaga, penjamin emisi pun setelah itu melakukan tahapan," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita perlu tambahan emiten baru, berkualitas. Ini menjadi pilihan lebih banyak dan investor tertarik," tegas Isaka.
Ia mengatakan, penambahan emiten hanya satu faktor. Menjadi percuma jika emiten bertambah, namun investor dalam negeri masih minim.
"Bursa saham bisa likuid. Namun bukan hanya kinerja emiten dan jumlah saham yang beredar. Jumlah investornya. Di kita masih minim, bandingkan dengan Malaysia yang investornya sudah 10 juta," ucapnya.
"Investor lokal mungkin perlu dipertimbangkan. Tingkatkan investor lokal, seperti kampanye KB (Keluarga Berencana) dan tabung. Saat ini belum signifikan," imbuh Isaka.
(wep/ang)











































