Seperti halnya para calon DKI-1 berserta wakilnya yang ternyata banyak mengoleksi mata uang asing paling favorit ini. Sebenarnya apakah keuntungan memegang banyak dolar AS?
Juru Bicara Bank Indonesia (BI) Difi Johansyah mengungkapkan pada dasarnya dolar memang bisa digunakan untuk berinvestasi. "Dimana dolar AS khususnya bisa mempertahankan nilai kekayaan di masyarakat kita," ungkap Difi ketika berbincang dengan detikFinance, Senin (25/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dolar itu biasanya tidak buat untung karena imbal hasilnya rendah di tanah air. Portofolio atau kekayaan pribadi dalam bentuk dolar itu falsafahnya tergantung kepada rencana keuangan kedepan," ungkap Difi.
"Misalnya untuk menyekolahkan anak. Jadi bukan dalam jangka waktu singkat, tapi panjang," imbuh Difi.
Investasi di mata uang tertentu itu pada dasarnya, sambung Difi mengamankan penurunan nilai sebuah mata uang dari inflasi. "Jika memang di rupiah, maka harus aman dari inflasi dalam rupiah. Nah kalau investasinya dolar kan pegangannya inflasi AS," tutur Difi.
"Jadi dalam perencanaan keuangan kita harus seksama terhadap inflasi mana yang akan pengaruh ke spending kita. Kalau kita mau menyekolahkan anak di luar negeri, misal Singapura maka yang kita pikirkan adalah inflasi dalam dolar berbeda jika hanya kebutuhan domestik ya cukup rupiah saja," terangnya.
Sementara itu, dalam kesempatan terpisah Pengamat Pasar Modal Yanuar Rizky mengatakan investasi dalam bentuk dolar AS memang masih menjanjikan. Menurutnya, dolar masih pegang kendali dan nilainya tidak akan anjlok ketika memang digunakan untuk investasi jangka panjang.
"Dolar jangan dilihat dari harian pasti volatilitasnya tinggi. Lebih ke forward looking atau melihat investasi kedepan lebih panjang," ungkap Yanuar.
Menurut Yanuar, pemahaman investasi ke dolar itu jangan disamakan ketika investasi ke saham. "Jangan seperti main saham. Mencari gain saja. Pegang dolar itu lebih kepada mengamankan aset kita," jelas Yanuar.
(dru/hen)











































