Maskapai penerbangan nomor satu di Indonesia ini pun tengah mencari utang senilai US$ 200 juta atau setara Rp 1,8 triliun. "Untuk kebutuhan pengembangan pembiayaan jangka pendek," kata Dirut Garuda Emirsyah Satar di London, Inggris, Jumat (13/7/2012).
Sejumlah langkah tengah dijajaki Garuda, mulai dari rencana penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias right issue, obligasi, hingga menjajaki pinjaman dari lembaga keuangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, menurut Direktur Keuangan Hendrito Hardjono, utang baru itu tidak berpengaruh banyak pada likuiditas keuangan Garuda. Utang baru itu masih dalam taraf batas wajar. Pendanaan utang itu untuk kebutuhan mulai 2012 ini.
Sedang terkait utang lama Garuda, Hendrito menegaskan, utang yang lama sudah dibayarkan tepat waktu. Bahkan akhir 2014, utang senilai US$ 200 juta diperkirakan sudah lunas.
"Sekarang kita mencoba mencari utangan baru, untuk tahun ini," Hendrito.
Sementara itu terkait keuntungan yang diperoleh Garuda hingga Juni 2012, Emirsyah menegaskan, Garuda sudah mendapatkan keuntungan yang menggembirakan.
"Pokoknya hasilnya lebih bagus dari Juni tahun lalu," terang Emirsyah.
Sayangnya Emir tidak bisa membeberkan berapa nilai keuntungan itu. Semua mesti dibicarakan lebih dahulu dengan stake holder Garuda.
"Tunggu saja akhir bulan ini," terang Emir yang selalu fit dengan gowes dan tenis ini.
(ndr/ang)











































