PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dapat pinjaman US$ 50 juta (Rp 450 miliar). Dananya akan dikombinasikan dengan pendanaan hasil rights issue (NPR) untuk melunasi obligasi rupiah 4 September mendatang.
Pinjaman sindikasi tersebut difasilitasi oleh Credit Suisse Singapore dengan tenor 18 bulan dengan bunga 11,5%.
"Kami bersyukur bahwa BTEL masih tetap mendapat kepercayaan yang tinggi dari institusi keuangan asing. Hal ini tentunya akan semakin mempercepat program revitalisasi yang sedang dilakukan perusahaan,β kata Presiden Direktur BTEL Anindya Bakrie dalam keterangan tertulis, Selasa (24/7/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Wakil Direktur Utama merangkap Direktur Keuangan BTEL Jastiro Abi, pinjaman bank sebesar US$ 50 juta tersebut akan dikombinasikan dengan pendanaan hasil rights issue (NPR) untuk melunasi obligasi rupiah pada 4 September mendatang.
"Hasil awal dari proses NPR saat ini, BTEL sudah menerima pembayaran sebesar Rp 150 miliar dari Bakrie Global Ventura. Dikombinasikan dengan kas internal perusahaan dan pinjaman bank yang baru didapat kami telah mendapatkan pendanaan lebih cepat untuk melunasi kewajiban obligasi," kata Anindya Bakrie.
Seperti sudah diumumkan sebelumnya, pemulihan BTEL terdiri dari lima tahap. Pertama, adalah program penyehatan dan penguatan keuangan perusahaan.
Kedua, penguatan organisasi, budaya dan governance. Ketiga, kembali ke inti kekuatan BTEL, yakni back to basic (one brand, one price) tapi banyak opsi produk. Keempat, mendorong pertumbuhan revenue dari data. Kelima, peningkatan kualitas produk dan layanan pelanggan.
Perolehan dana dari perbankan dan rights issue, merupakan realisasi dari tahap pertama. Adapun tahap kedua, yakni penguatan organisasi, BTEL menambah direksi dan komisaris baru pada Juni lalu.
Anindya mengatakan, manajemen BTEL juga terus berkomitmen merealisasi program pemulihan tahap tiga dan empat, yakni one brand one price tapi banyak opsi produk dan mendorong pertumbuhan revenue dari data. (ang/dnl)











































