Sebagai catatan periode enam bulan pertama 2012, harga jual rata-rata perseroan Rp 785.0423 atau U$ 85 (kurs 1U$=Rp 9.200) per ton. Ini berarti lebih rendah dari catatan harga jual rata-rata di triwulan I-2012 yang berkisar US$ 90 per ton.
Direktur Utama PTBA Milawarma menerangkan, kondisi global membawa harga-harga komoditas Asia dan Indonesia, khususnya batubara tertekan.
"Sektor batubara memang turun sampai 25% karena over suplai di Asia. Kita tahu pergerakan kita banyak ditentukan ekonomi China Selatan. Stok (batu bara) juga yang biasanya 15 hari, dalam kondisi ektrem bisa 25 hari sampai 1 bulan. Ini menyebabkan pembeli China melakukan tunda," katanya di Jakarta, Selasa (24/7/2012) malam.
"Pasokan batubara dari AS dan Afrika Selatan juga masuk ke Asia. Selain itu Indonesia juga terjadi peningkatan produksi dari 350 juta ton menjadi
450 juta ton di 2012. Suplai jadi berlebih," tambah Milawarma.
Batu bara thermal asal Indonesia juga meningkat, hingga permintaan komoditas yang satu ini dari Australia berkurang. "Padahal Indonesia pakai (acuan) harga Australia dan Jepang. Maka ini yang menyebabkan indeks Asia turun," tuturnya.
Perseroan pun mengakui, harga jual ekspor mengalami penurunan akibat over suplai di tingkatan dunia, padahal realisasi penjualan PTBA meningkat 21% dari 6,52 juta ton menjadi 7,88 juta ton.
"Dan saat (harga) terpuruk maka kita hanya jual batubara kualitas tinggi," tegas Milawarma.
Pada bagian lain, mantan Direktur Produksi PTBA ini menjelaskan pihaknya telah menghabiskan dana sebesar Rp 140 miliar untuk pembelian kembali saham atau buyback. Padahal alokasi dana buyback yang disepakati mencapai Rp 2 triliun dan memiliki waktu transaksi hingga pertengahan 2013.
"Kita baru gunakan sebagian karena perekonomian global yang masih fluktuatif, kemudian karena peraturan yang ada. Dimana kita tidak bisa melakukan buyback jika harga saham naik dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya," ucapnya.
Sebagai catatan, hingga Juni 2012, total saham PTBA yang sudah dibeli sebanyak 9,67 juta lembar. Harga rata-rata pembelian saham sebesar Rp 14.618 per saham.
(wep/ang)











































