"Solar untuk industri itu seharga US$ 1 dolar per liter, biodiesel itu sekarang masih US$ 1,25 dolar per liter. Harga mahal karena bahan bakunya masih dari luar," ujar Sekretaris Perusahaan PT Adaro Energy, Devindra Ratzarwin dalam kunjungan ke Tambang Tutupan, Tanjung, Banjarmasin, Rabu (8/8/2012).
Menurut Devindra, kurangnya pasokan bahan baku untuk energi terbarukan tersebut karena saat ini pihak Adaro tengah menyiapkan beberapa bahan baku untuk biodiesel ini, seperti tumbuhan jarak yang akan ditanam di lahan seluas 65 hektare.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Devindra menambahkan produk biodiesel yang dikembangkan perusahaan tambang ini sebanyak 1,1 ton per hari dengan bahan baku berasal dari tempat lain. Produksi tersebut tengah diujicobakan kepada 2 dumptruck.
"Produk 1,1 ton ini bisa untuk 2-3 unit," jelasnya.
Ke depan, diharapkan dari 65 hektar lahan dapat dihasilkan sekitar 130 ton yang 20 persennya dapar diolah menjadi bahan bakar. Pada tahun ini telah dilakukan pengujian terhadap dumptruck yang menggunakan 80% bahan bakar solar dan 20% minyak jarak.
Dari hasil pengujian pada unit dump truck yang menggunakan komposisi bahan bakar B20, menunjukkan mesin dalam kondisi βnormalβ atau kondisi mesin bagus tanpa ada kerusakan. Walaupun demikian, Biodiesel Fuel βPilotβ Plant Project akan terus dikembangkan dan akan dievaluasi hingga akhir 2012.
"Konsumsi memang agak banyak dari biasanya yang 60 liter per jam, biodiesel itu 70-71 liter per jam, ada pengurangan power, tapi mesinnya normal, dan paling penting adalah mampu mengurangi emisi 200 ton per tahun untuk 1 unit," tandasnya.
(nia/ang)











































