Pemerintah Tetap Tolak Rencana Niaga Terbitkan Right Issue
Rabu, 01 Sep 2004 16:37 WIB
Jakarta - Pemerintah (PT PPA) tetap tidak mengizinkan rencana Bank Niaga yang akan melakukan right issue (penawaran umum terbatas) sebesar Rp 1 triliun yang sedianya dilakukan pada semester II tahun 2004 ini. Alasannya, pemerintah tidak ingin kepemilikannya di Bank Niaga terdilusi (berkurang)."Kita tidak izinkan Bank Niaga melakukan right issue. Kita minta mereka melakukan opsi lain selain right issue, yang penting saham kita tidak terdilusi," kata Dirut PT PPA Muhammad Syahrial di Hotel Mulia, Jl. Asia Afrika, Jakarta, Rabu, (1/9/2004).Seperti diketahui, Bank Niaga berencana melakukan right issue sebesar Rp 1 triliun dalam rangka meningkatkan CAR-nya lebih dari 12 persen dibanding posisi saat ini. Opsi right issue pembiayaannya dinilai lebih murah ketimbang menerbitkan obligasi.Pemerintah melalui PPA saat ini memiliki 21,53 persen saham Bank Niaga, Commerce Asset Berhard 52,82 persen dan publik 25,65 persen.Di tempat yang sama Tay Un Soo, Finance and Corporate Planing Director Bank Niaga, mengatakan, jika pemerintah tidak menyetujui rencana itu bisa saja perseroan menerbitkan obligasi sub debt atau lainnya tergantung kebutuhan perusahaan."Karena pemerintah tidak setuju right issue, kita eksplorasi lagi opsi-opsi lain dan kemungkinan tidak dilaksanakan tahun ini tapi tahun depan," kata Tay.Tay juga belum bisa mengungkapkan, apakah jika perseroan memilih opsi obligasi sub debt akan diterbitkan dalam mata uang rupiah atau dolar AS. "Saya belum bisa jawab rupiah atau dolar AS," kata dia.Mengenai rencana pemegang saham Bank Niaga Commerce Asset Berhard yang akan melakukan merger Bank Niaga dan Bank Permata jika memenangkan divestasi 51 persen saham Bank Permata, menurut Tay, hal itu merupakan rencana jangka panjang.Bagaimana pun, menurutnya, untuk mengembangkan bank menjadi lebih baik dan lebih besar tidak hanya bisa mengandalkan pertumbuhan organik (kredit) bank. "Sejak pemegang saham menginginkan kita jadi bank yang baik, itu artinya tidak bisa hanya mengandalkan pertumbuhan organik dan kita yakin opsi yang baik adalah merger," kata dia.Menurutnya, banyak keuntungan jika Bank Niaga melakukan merger dengan Bank Permata, seperti terjadinya sinergi dan bertambahnya jaringan yang semakin luas. "Kalau anda lihat sistem yang dimiliki dan Bank Permata sangat mirip, demikian juga kulturnya. Jadi, mergernya sangat baik kalau itu terlaksana," katanya.Pada penutupan perdagangan saham di BEJ, Rabu ini, saham Bank Niaga ditutup naik Rp 5 menjadi Rp 305.
(mi/)











































