Demikian disampaikan Direktur Utama GIAA Emirsyah Satar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (11/9/2012).
Emir menjelaskan, sebagai penasihat keuangan PT Mandiri Sekuritas memang belum melaporkan kajian finalnya terhadap bisnis GMF dan Aerowisata. Namun ia memperkirakan, IPO kedua anak usahanya ini bakal ditunda atau tidak terlaksana di 2012 seperti target sebelumnya GIAA sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin kita tunda. Tapi tunggu laporan (dari Mandiri Sekuritas)," tegas Emir.
Pada bagian lain, Direktur Keuangan Garuda Indonesia Handrito Hardjono menyebut, perseroan masih melanjutkan proses restrukturisasi utang. Di 2012 rencananya US$ 20 juta-US$ 30 juta masuk daftar restrukturisasi dari total utang perseroan yang berjumlah US$ 385 juta.
"Utang kita per Juli US$ 385 juta. Yang dibayar sebagian besar kreditur. Sampai akhir tahun sekitar US$ 20 juta-US$ 30 juta," katanya.
Emir menegaskan, utang US$ 385 juta GIAA masih dalam kontrol manajemen. Ke depan perseroan bahkan siap menyusun strategi pengelolaan keuangan yang difasilitasi oleh Standard Chartered.
"Yang mau utangi kita banyak. Namun kita dibantu Standard Chartered sebagai financial advisor. Ke depan Garuda akan berkembang, jadi gimana membiayai growth ke depan dalam rangka pengembangan armada, financial lease atau right issue," imbuh Emir.
(wep/dru)










































