Mampukah Alexander Rusli Kurangi Utang Indosat Rp 26 Triliun?

Mampukah Alexander Rusli Kurangi Utang Indosat Rp 26 Triliun?

- detikFinance
Senin, 17 Sep 2012 17:43 WIB
Mampukah Alexander Rusli Kurangi Utang Indosat Rp 26 Triliun?
Jakarta - Komisaris Utama PT Indosat Tbk H.E Sheikh Abdullah Mohammed S.A. Al-Thani mengumumkan pergantian Harry Sasongko sebagai Direktur Utama dan resmi menunjuk Alexander Rusli sebagai suksesor. Akankah Rusli mampu memperbaiki kinerja Indosat yang sempat terpuruk, dengan tumpukan utang hingga Rp 26 triliun?

Qtel yang menjadi mayoritas atas kepemilikan saham ISAT, bersama pemegang saham lainnya sepakat menujuk Rusli sebagai bos baru Indosat. Sheikh Abdullah menjelaskan, penunjukan ini didasari atas pengalaman Rusli yang cukup luas di industri telekomunikasi.

Sheikh Abdullah pun berharap Rusli dapat memimpin Indosat dengan sukses di tahap lanjutan, setelah Harry menakodai perusahaan tiga tahun terakhir. "Dengan pengalaman yang dia miliki akan membantu perusahaan sukses di masa mendatang. Semoga kesuksesan selalu menyertainya," kata Sheikh Abdullah di Jakarta, Senin (17/9/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga semester I-2012 perseroan mengumpulkan utang total Rp 26 triliun. Kewajiban menumpuk ini sejatinya sudah akan dikurangi secara bertahap oleh manajemen dibawah pimpinan Harry Sasongko kala itu. Harry bahkan berniat memangkas utang Rp 2,9 triliun di tahun 2012 ke beberapa bank.

Sekitar Rp 2,2 triliun merupakan utang dalam denominasi rupiah yang ISAT dapat dari tiga bank, cicilan pinjaman BCA 1 Rp 1 triliun, cicilan pinjaman Mandiri 1 Rp 1 triliun. Masih terdapat pembayaran lebih awal obligasi II yang jatuh tempo di triwulan IV-2012 sekitar Rp 200 miliar. Sisanya sekitar Rp 700 miliar merupakan utang dalam denominasi dollar AS.

Hingga Juni 2012, ISAT masih mengakumulasi rugi bersih Rp 131,8 miliar pada semester I-2012, padahal dari periode sebelumnya perusahaan menghasilkan laba Rp 724,5 miliar. Kinerja buruk disebabkan rugi selisih kurs yang diderita ISAT dengan nilai Rp 522,3 miliar. Padahal pada semester I-2011 perseroan meraih untung kurs Rp 677,7 miliar.

Hitungan rugi kurs itu dihitung dari posisi penutupan rupiah akhir 2011 Rp 9.480 per dollar AS, dibandingkan valas per Juni 2012 Rp 9.068 per dollar AS. Selisih rugi kurs ini menjadi tanggungan perseroan terhadap utang valas yang mencapai US$ 11,96 juta.

Rusli diketahui juga pernah menjabat di sejumlah tempat. Diantaranya Komisaris PT Tugu Pratama Indonesia. Selain itu Rusli juga menempati posisi Managing Director Northstar Pasific, salah satu perusahaan investasi di Indonesia.

Pria peraih gelar Doctor of Philosophy, Information Systems dari Curtin University of Technology, Australia ini juga pernah menjabat sebagai staf ahli Kementerian BUMN dan Komisaris Independen PT Krakatau Steel Tbk (KRAS)

(wep/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads