Laks Berharap Saham BNI Bisa Mencapai 1,8 PBV

Laks Berharap Saham BNI Bisa Mencapai 1,8 PBV

- detikFinance
Rabu, 08 Sep 2004 17:55 WIB
Jakarta - Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi berharap harga jual saham BNI yang akan dilepas melalui secondary offering bisa mencapai 1,8 kali dari harga nilai buku (price to book value/PBV). Harga tersebut cukup masuk akal mengingat kinerja keuangan BNI saat ini sangat baik."Kalau dilihat dari Bank Mandiri dan BRI, sekarang itu kita pakai rasio 1,8 kali (nilai buku) karena waktunya kan berbeda. Kondisi makronya kan berbeda saat IPO Bank Mandiri dan BRI. Yang penting, kinerja BNI semester pertama sudah sangat baik dan kalau dianualisasi bisa Rp 1,5 triliun," kata Laks usai rapat dengar pendapat antara Pertamina dengan Komisi VIII DPR, Rabu (8/9/2004).Mengenai calon investor BNI, Laks mengaku, sejauh ini dirinya belum mengetahui. Menurutnya, yang terpenting dalam waktu dekat pihaknya akan meminta persetujuan dari DPR. Rencananya, permintaan persetujuan divestasi BNI tersebut akan dilakukan Kamis (9/9/2004) besok.Laks berharap, DPR bisa menyetujui izin divestasi BNI mengingat waktunya yang tinggal sedikit. Dengan anggota DPR yang baru, diperkirakan proses persetujuannya akan menjadi lebih sulit karena harus menjelaskan kembali dari awal."Seperti strategic sale itu kan susah, dibanding IPO yang lebih mudah. Dalam setengah tahun saja, untuk semester satu kinerja BNI sudah luar biasa. Jadi cukup memberikan jaminan harga," tutur menteri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.Pemerintah, lanjut Laks, tidak akan terlalu banyak melakukan divestasi menjelang akhir tahun ini. Kemungkinan yang akan dijual hanya beberapa BUMN saja seperti BNI, Merpati, ditambah Bank Permata yang diharapkan harganya bisa di atas target yang ditetapkan."Jadi semua DPR yang menentukan, bukan kami, karena untuk privatisasi perlu disetujui Panitia Anggaran. Ini ada dalam undang-undang, kami hanya melaksanakan. Kalau memang APBN sangat kurang, ada defisit dan bisa dicari pembiayaan lain, ya silakan, nggak ada masalah. Yang penting, semua kita konsultasikan dulu," paparnya. (ani/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads