"Rencana ini akan kami lihat kembali kondisi perusahaan. Tidak menutup kemungkinan penerbitan saham baru akan dilakukan dengan cara biasa atau tanpa HMETD," kata Presiden Direktur BUMI Ari Hudaya di Hotel Four Season, Jakarta, Selasa (2/10/2012).
Direktur sekaligus Sekertaris Perusahaan Dileep Srivastava menambahkan, perseroan sudah lama tidak mengeluarkan saham baru kepada publik. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), terakhir kali HMETD dilakukan perseroan pada 26 Mei 2000 sejumlah 18,612 miliar lembar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak usaha yang dimungkinkan untuk dilego adalah PT Fajar Bumi Sakti. "Mungkin, apakah tahun ini atau tahun depan dan nilainya, saya belum dapat berkomentar," tutur Dileep.
Investor publik hingga akhir semester I-2012 tercatat memiliki saham BUMI cukup banyak. Dari total 20,773 miliar lembar saham yang ditempatkan dan disetor penuh, masyarakat memiliki 14,238 miliar lembar. Sedangkan pemegang saham pengendali adalah Vallar Investments UK Limited yang memiliki 29,18% atau 6,061 miliar lembar. Kemudian masih terdapat saham beredar yang dibeli kembali sekitar 473,212 juta lembar.
Kepemilikan publik atas saham BUMI relatif lebih kecil dibandingkan tahun lalu. Publik per 1 Januari 2011 memiliki 19,251 miliar lembar atau 92,67% dari saham ditempatkan dan disetor penuh. Sisanya dimiliki Credit Suisse AG, Singapore 1,048 miliar lembar atau 5,05% dari saham ditempatkan dan disetor penuh.
(wep/dnl)











































