IHSG Anjlok 29,652 Poin

Sesi Pertama

IHSG Anjlok 29,652 Poin

- detikFinance
Kamis, 09 Sep 2004 12:31 WIB
Jakarta - Investor di Bursa Efek Jakarta (BEJ) terus mengalami kepanikan sehubungan ledakan bom berkekuatan besar dan memakan korban di dekat Kedutaan Besar Australia, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (9/9/2004).Pada penutupan sesi pertama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 29,652 poin pada level 759,484. Indeks bahkan sempat anjlok hingga 31 poin lebih. Namun demikian, otoritas bursa menegaskan perdagangan saham di BEJ tidak akan dihentikan.Panic selling yang melanda bursa saham terlihat dari cukup tingginya nilai transaksi yang mencapai Rp 1,495 triliun. Nilai transaksi itu didominasi aksi jual, baik oleh investor asing maupun domestik. Hanya 8 saham yang mencatat kenaikan harga, sementara 147 saham lainnya mengalami penurunan harga dan 223 saham lainnya stagnan.Saham-saham unggulan dan lapis kedua mengalami tekanan hebat hingga mengalami penurunan harga cukup signifikan, seperti Gudang Garam (GGRM) turun Rp 350 menjadi Rp 12.900, Telkom (TLKM) turun Rp 300 menjadi Rp 7.850, Astra Internasional (ASII) turun Rp 250 menjadi Rp 6.350, Indosat (ISAT) turun Rp 125 menjadi Rp 4.100 dan Bank BCA (BBCA) turun Rp 100 menjadi Rp 1.800.Pelaku pasar menyayangkan kembali terjadinya teror bom di tengah situasi ekonomi menjelang pilpres putaran kedua, terutama bursa saham, yang terus membaik. Menurut pelaku pasar, tekanan jual akan kembali terjadi hingga penutupan hari ini, mengingat jumlah korban dan kerugian yang cukup besar akibat teror bom tersebut.Sementara itu Direktur Pengawasan BEJ Sihol Siagian menegaskan, aktivitas perdagangan saham tidak akan dihentikan, meskipun indeks turun cukup besar. Hal itu, karena ledakan yang terjadi tidak sampai mengganggu aktivitas di lantai bursa, seperti halnya yang pernah terjadi saat bom BEJ tahun 2000 lalu.Penegasan Sihol ini sekaligus meluruskan adanya pemberitaan bahwa BEJ sempat megnhentikan perdagangan saham. Menurutnya, otoritas bursa sama sekali tidak mengambil kebijakan tersebut. Ia juga menjelaskan, BEJ mempunyai back up data, baik manual maupun elektronik, yang cukup baik jika terjadi sesuatu yang tidak terduga.Sedangkan nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan yang cukup tinggi. Hingga penutupan perdagangan Kamis siang, rupiah turun 53 poin pada level Rp 9.330 per dolar AS. (ani/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads