"Harus ada pendalaman market, financial deepening. Butuh komitmen dari pelaku industri kalau mau kontribusi terhadap PDB menjadi 10%," kata Mahendra usai pembukaan pekan reksa dana nasional, di Central Park, Jakarta, Kamis (18/10/2012).
Untuk itu perlu adanya komunikasi antara pelaku industri dan regulator guna peningkatan pengelolaan dana. Pelaku industri juga harus mendiversifikasi produk investasi, agar masyarakat lebih tertarik dengan reksa dana.
"Apa yang harus dilakukan untuk pendalaman, karena ini penting melihat kondisi ekonomi makro dunia terkini, dimana Indonesia menjadi negara yang tetap tumbuh diatas 6%, bersama China," paparnya.
"Kalau Indonesia kuat, tapi susb sektor seperti reksa dana tidak melakukan apapaun, akan lewat begitu saja," tambah Mahendra.
Tak kalah penting adalah sosialisasi akan pentingnya investasi dengan imbal hasil yang lebih tinggi dari pada tabungan. "Supply side bisa bisa respon tidak? Karena jika tidak berkembang, lari ke investasi konvensional. Bank atau properti. Ini (reksa dana) bisa menjadi alternatif," tegasnya.
APRDI mencatat, pertumbuhan nasabah reksa dana masih minim. Hingga kini total baru 161 ribu investor yang ikut reksa dana. Bandingkan dengan total rekening nasabah perbankan, 101.531.209 rekening.
Dana kelolaan reksa dana juga jauh tertinggal, yang kini masih mencapai Rp 170 triliun. Bandingkan dengan dana kelolaan masyarakat di perbankan, Rp 2.984 triliun.
Presentase dana kelolaan reksa dana terhadap PDB juga masih rendah. Jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga, seperti Malaysia yang mencapai 49%, atau Thailand 20%.
(wep/ang)











































