Bio Farma Siap "Rajai" Bisnis Vaksin Dunia

Bio Farma Siap "Rajai" Bisnis Vaksin Dunia

- detikFinance
Rabu, 31 Okt 2012 16:26 WIB
Bio Farma Siap Rajai Bisnis Vaksin Dunia
Jakarta - PT Bio Farma (Persero) siap menjadi produsen dan pusat pengembangan vaksin kelas dunia. Rencana BUMN farmasi ini tidak muluk-muluk, sebab pengalamannya yang telah mengekspor vaksin ke 117 negara di dunia membuat Bio Farma optimistis bisa menguasai pasar vaksin dunia.

“Untuk negara-negara muslim, kita (Indonesia) nomor satu,” kata Direktur Utama Bio Farma, Iskandar dalam siaran pers yang dikutip detikFinance, Rabu (31/10/2012).

Menurut Iskandar, diantara 14 negara berkembang yang menjadi produsen vaksin, Indonesia merupakan negara yang memiliki kemampuan memproduksi vaksin yang sangat dibutuhkan dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, dibandingkan Iran yang merupakan produsen vaksin di negara berkembang, peluang Indonesia menjadi pengekspor vaksin nomor satu sangat besar mengingat Iran sedang mengalami kesulitan terkait embargo teknologi sehingga belum mampu untuk mendapatkan prakualifikasi badan kesehatan dunia (WHO).

"Dengan prakualifikasi WHO sejak tahun 1997, produsen vaksin yang terpusat di Bandung, Jawa Barat itu memperoleh ijin untuk mengekspor vaksin ke seluruh dunia dengan kualitas tinggi namun dengan harga yang terjangkau, khusunya bagi negara-negara berkembang," tambahnya.

Seperti diketahui, vaksin polio merupakan salah satu produk unggulan Bio Farma yang diproduksi 1,4 miliar dosis per tahun. Iskandar mengatakan, selain ingin menjadi produsen vaksin kelas dunia, Indonesia juga berpeluang menjadi pusat untuk penelitian dan berperan sebagai mitra penelitian vaksin baru bagi negara berkembang.

Pada pertemuan ke-13 Jaringan Produsen Vaksin Negara-Negara Berkembang (DCVMN) di Kuta Bali pada 31 Oktober hingga 2 November 2012 Indonesia akan mengajak negara partisipan untuk berbagi pengalaman untuk menemukan teknologi baru dalam mengembangkan vaksin dalam memerangi penyakit menular baru.

“Tapi kita belum mengembangkan vaksin HIV. Itu tidak mudah karena memerlukan teknologi yang tinggi. Dalam hal ini kita manfaatkan negara anggota DCVMN untuk menghasilkan teknologi yang tepat,” tutup Iskandar.

(feb/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads