Saham raksasa elektronik asal Jepang, Panasonic, anjlok lebih dari 20% setelah melaporkan proyeksi kerugian masif senilai US$ 9,6 miliar (Rp 86,5 triliun) di akhir Maret 2013.
Koreksi ini juga terjadi tak lama setelah banyak media melaporkan Panasonic akan menderita rugi US$ 5,6 miliar (Rp 50 triliun) dalam laporan kinerja terakhirnya, dua kali lebih tinggi daripada proyeksi kerugian perusahaan sebelumnya.
Saham Panasonic dibuka 414 yen di bursa Tokyo, tertahan oleh autoreject batas bawah atau terkoreksi 19,45% sebesar 100 yen. Sahamnya sempat rebound sedikit ke 419 yen pukul 10:50 waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Panasonic pun berniat untuk melakukan segala upaya demi melakukan penghematan, termasuk menutup beberapa divisi yang sudah tidak menguntungkan dan mengurangi jumlah karyawan.
"Jadi fokusnya sekarang ini adalah apakah ini kerugian yang harus diderita dulu selama masa restrukturisasi? Saya rasa tidak," kata Mitsushige Akino, kepala manajer investasi dari Ichiyoshi Investment Management kepada Dow Jones Newswires yang dikutip AFP, Kamis (1/11/2012).
Panasonic menderita hal yang sama dengan pesaingnya, Sony dan Sharp, yaitu lesunya penjualan televisi dengan banyak munculnya pemain baru di industri. Nilai tukar Yen yang cukup kuat juga menghantam industri manufaktur Jepang, terutama yang berorientasi ekspor.
Laju pertumbuhan bisnis televisi Jepang pun seolah ketinggalan jauh oleh pesaing dari luar negeri, seperti Samsung dari Korea Selatan dan Apple dari Amerika. Kedua perusahaan yang baru saja disebutkan justru bisa mencetak laba sangat tinggi. (ang/dnl)











































