Hal ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Tol Indonesia (ATI) Fatchurahman kepada detikFinance, Selasa (13/11/12).
"Dia (Hary Tanoe) pemegang saham CMNP untuk ruas tol dalam kota, lalu ada lagi di Surabaya, dan Depok Antasari," ungkap Fatchur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau mengakuisisi itu siapa aja bisa, sah-sah aja. Asal harganya cocok. Walau secara yuridis harus lapor ke Menteri PU. Kalau orangnya bonafid, sah-sah saja," paparnya.
Fatchur memaparkan, dana yang dimaksud bukan serta merta dana yang dimiliki sendiri. Sebuah perusahaan harus bisa menggerakan dana yang dikeluarkan itu agar menjadi sebuah pendapatan dari pengoperasian tol itu sendiri.
"Mereka nggak harus punya uang. Asal mereka mampu untuk menggenerate uang itu, memobilisasi uang itu," paparnya.
Lain hal dengan konstruksi, lanjut Fatchur, yang harus memiliki banyak pengalaman. Untuk mengoperasikan tol, adalah hal mudah.
"Kalau saya membangun konstruksi maka kontrakstornya harus pengalaman. kalau mengakuisisi itu, asal dia punya uang, maka dia bisa. Pengoperasiannya gampang, tinggal perawatan teratur agar memenuhi SPM biar bisa naik tarif," pungkasnya.
PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) memang mempunyai saham di perusahaan jalan tol, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP). Di 2011 BHIT sempat melepas sahamnya di CMNP dengan menjual 9 juta saham atau 0,45% total saham, di harga Rp 1.250 per saham.
Harga penjualan tersebut sedikit lebih rendah dari harga rata-rata saham CMNP selama sepekan lalu, yaitu di level Rp 1.282 per saham.
Kepemilikan BHIT di CMNP sudah menyusut menjadi hanya 3,15% saham dan kini BHIT tak lagi mempunyai saham.
(zlf/dru)











































